Meminta-minta Roti

Pertanyaan

Dalam Mazmur 37:25 Daud berkata, “…tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.” Namun, kondisi ini tidak selalu benar kan? Jelas orang mengalami kelaparan, bahkan orang Kristen. Bahkan dalam Perjanjian Baru Lazarus terlihat mengemis (Lukas 16:20). Saya tidak mengerti.

Jawaban

Mazmur 37:25 Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.

Pertama, di Mazmur 37, Daud merenungkan tentang apakah orang benar atau orang tidak benar akan menikmati Tanah Perjanjian. Dia mengkontraskan orang benar dengan orang jahat. Kitab Mazmur menginstruksikan orang benar untuk tidak mencemburui apa yang terlihat sebagai kesuksesan orang jahat, karena apa yang mereka miliki itu hanya sekejab. Kitab Mazmur adalah tentang ketekunan dan keadilan puncak. Pada akhirnya, orang benarlah yang akan menang karena Allah tidak akan pernah membiarkan atau meninggalkan mereka (Ibr. 13:5). Kitab Mazmur menawarkan pengharapan bagi orang kudus yang setia.

Kedua, perhatikan bahwa Daud menggunakan “aku” tiga kali: “aku” waktu dahulu muda, sekarang “aku” tua, dan “aku” tidak pernah melihat orang benar ditinggalkan. Pernyataan-pernyataan ini dikumandangkan dalam sebuah rentang waktu dari sejak dia masih muda sampai dia sudah tua. Ini adalah pernyataan pengalaman pribadi.

Daud menarik dari kurun waktu pengalaman hidup pribadinya untuk membuat suatu penegasan: Allah tidak meninggalkan umatNya! Rentang mulai dari muda sampai tua sangatlah penting karena terkadang untuk sesaat memang terlihat seakan orang benar ditinggalkan. Bahkan Daud sendiri mengingini roti imam Abimelek, (1 Sam. 21:3), dan bersama pasukannya mereka mengingini makanan Nabal (1 Sam. 25:8), namun Tuhan atas hari Sabatlah yang menyediakan (Mat. 12:1-8). Daud telah mengecap yang manis dan yang pahit. Dia telah mengalami baik kesukaan maupun kesukaran. Namun, melalui semua yang Daud hadapi, apakah baik atau jahat, Allah tidak pernah meninggalkannya. Demikian pula kita seharusnya memiliki harapan, karena Allah juga tidak akan meninggalkan kita!

Ketiga, kehidupan pada umumnya di Israel dalam Perjanjian Lama adalah bagi Israel untuk tidak menjadi pengemis. Meminta-minta roti yang terus berkelanjutan adalah kutuk bagi orang jahat (Maz. 109:10), bukan bagi orang benar. Allah menyediakan bagi kebutuhan orang benar (Maz. 9:18, 10:12; 12:5; Yes. 41:17). Sekalipun Allah telah memberitahukan Israel bahwa orang miskin akan terus berada di antara mereka, Dia juga memberi mandat bagi pemeliharaan mereka. Pertimbangkanlah komentar berikut dari Baker Evangelical Dictionary of Biblical Theology:

Perjanjian Lama. Pentateukh menekankan perlakuan yang adil dan merata bagi kaum miskin. Keadilan tidak boleh dihalang-halangi bagi kaum miskin (Kel. 23:6) atau diputar-balikkan karena seseorang miskin (Kel. 23:3). Perlakuan yang sama ini digambarkan dengan pengumpulan uang persembahan yang diambil dari orang kaya dan orang miskin (Kel. 30:15). Sebagai bagian dari komunitas perjanjian (kovenan) orang miskin tetap harus diperlakukan dengan hormat (Ul. 24:10-11) dan didukung, bahkan secara ekonomi, oleh orang Israel lainnya, karena mereka tidak boleh mengenakan bunga atas pinjaman kepada orang miskin di tengah-tengah mereka (Kel. 22:25; Im. 25:35-38).

Di luar peraturan yang langsung diberikan, beberapa institusi memiliki penyediaan khusus bagi kaum miskin. Hukum untuk mengambil sisa panen berfokus pada janda, anak yatim, orang asing, dan kaum miskin (Im. 19:9-10; 23:22; Ul. 24:19-22). Selama tahun Sabat semua hutang harus dibatalkan (Ul. 15:1-9) dan tahun Kelepasan (Jubilee) menyediakan kelepasan bagi kaum Ibrani yang telah menjadi hamba oleh karena kemiskinan (Im. 25:39-41; 25:54). Selama perayaan-perayaan ini kaum miskin dapat makan sebebasnya dari hasil panen semua ladang (Kel. 23:11; Im. 25:6-7, 12).

Peruntukan yang melekat selanjutnya untuk membantu kaum miskin juga mencakup hak penebusan dari perbudakan oleh saudara sedarah (Im. 25:47-49), dukungan dari perpuluhan tahun ke tiga (Ul. 14:28-29), dan penyediaan khusus tentang korban penghapus dosa. Hukum yang terakhir ini mengilustrasikan natur yang relatif dari konsep kemiskinan. Jika seseorang tidak sanggup menyediakan korban umum seperti domba, maka mereka dapat membawa dua burung tekukur (Im. 5:7) namun pertimbangan lebih jauh (mengganti burung tekukur dengan sepersepuluh efa tepung), disediakan bagi mereka yang bahkan tidak menyanggupi dua burung merpati (Im. 5:11). Jelas sekali, Hukum Taurat menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah alasan untuk tidak terlibat dalam penebusan dosa dan penyembahan!

Motivasi di balik peraturan seperti ini adalah perhatian Allah bagi kaum miskin. Allah mendengarkan teriakan mereka yang membutuhkan (Kel. 22:27), memberkati mereka yang memperhatikan kaum miskin (Ul. 24:13; 24:19), dan meminta pertanggungan jawab mereka yang menindas kaum miskin (Ul. 24:15). Tuhan mendasarkan posisi ini atas relasiNya dengan umatNya; Dialah Allah mereka (Im. 23:22) dan telah menebus mereka dari perbudakan (Ul. 24:18).

Terakhir, oleh karena hukum dan kesetiaan Allahlah, Daud mampu berkata, “…tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.” Namun, ada kalanya orang benar dibawa untuk mengalami jenjang kesulitan yang menyedihkan ini, apakah dalam skala kosmik (tornado, angin badai, dll. - Maz. 107; Mat. 8:26-36), sesuai kondisi keadaan (dosa masyarakat, dll. - Dan. 6), kepekaan nurani (demi kebenaran - 1 Pet. 3:14), atau penderitaan untuk mengoreksi (dosa - Ibr. 12). Mengapa?

Kita harus mengingat bahwa janji Mazmur 37 adalah milik mereka yang percaya kepada Tuhan dan melakukan yang baik (Maz. 37:3), bergembira karena Tuhan (Maz. 37:4), berlaku setia kepada Tuhan (Maz. 37:5), dan yang berdiam diri di hadapan Tuhan dan menantikan Dia (Maz. 37:7). Ada kalanya kita keluar dari batasan ilahi ini dan menderita sia-sia, oleh karenanya anak-anak Allah harus menerima disiplin atas dosa (Ibr. 12) dan kadang kala berada dalam kekurangan. Saya rasa setiap kita dapat memahami hal ini. Berkat perjanjian (kovenantal) berkaitan erat dengan mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, bukan ketidakbenaran (Mat. 5:6).

Namun bagi yang lainnya, mereka harus menderita demi perluasan jangkauan Injil: “Bukan dia ataupun orang tuanya berdosa, melainkan supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia.” (John 9:3).

Sebagaimana yang tertera di Heidelberg Catechism (Hari ke-10):

P27: Apa yang anda pahami tentang providensi Allah?

J27: Kuasa Allah yang perkasa dan selalu hadir dimanapun, [1] dimana semua berasal dari tanganNya, Dia tetap menopang langit dan bumi dengan seluruh makhluk yang ada, [2] dan yang memerintah atas mereka sehingga tanaman dan rerumputan, hujan dan kekeringan, masa berbuah dan tandus, daging dan minuman, [3] kesehatan dan penyakit, [4] kekayaan dan kemiskinan, [5] benar adanya, segala sesuatu ada tidaklah karena kebetulan, namun berasal dari tangan Bapa.

1. Kis. 17:25-26

2. Ibr. 1:3

3. Yer. 5:24; Kis. 14:17

4. Yoh 9:3

5. Ams. 22:2; Maz. 103:19; Rom. 5:3-5a

Sekarang, poin terakhir ini harus dikupas lebih lanjut karena ini adalah sebuah berkat. “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Fil. 1:29). Apakah anda melihat berkatnya? Mengapa ini sebuah berkat? Karena kita menggenapi penderitaan Kristus melalui penderitaan kita. Paulus berkata di Kolose 1:24-29:

Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.

Bagian ini hanyalah satu dari banyak tempat dimana Paulus mengungkapkan kebenaran ini (2 Kor. 1:5; 4:10-12; Gal. 6:17; Fil. 3:10). Paulus menderita bagi Gereja (jemaat). Dia berkata, dia menggenapkan dalam dagingnya apa yang kurang pada penderitaan Kristus.

Namun penderitaan seperti apa yang Paulus sedang bicarakan? Apakah penderitaan di Kalvari tidak tuntas? Apakah Paulus sedang menempatkan dirinya sebagai Penebus-bersama-Kristus lewat penderitaan? TIDAK! Paulus bukan mengatakan bahwa penderitaan Yesus yang menebus - Hamba yang Menderita dalam Yesaya 53 - di Kalvari itu tidak sempurna, tidak tuntas, atau kurang, seakan dia atau yang lain perlu melakukan hal lain untuk dapat sepenuhnya ditebus! Baru saja pada beberapa ayat sebelumnya di Kolose dia berkata, “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Kol. 1:21-22). Paulus mengatakan, SEKARANG Allah telah memperdamaikan kita melalui Kristus semata! Selanjutnya dalam Kolose dia berkata, “dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.” Yesus berkata, "Sudah selesai!" (Yoh. 19:30). Kematian Kristus memastikan bahwa penebusan kekal itu aman dan sempurna serta cukup (Kol. 1:12-14, 19-20; 2:13-14; Ibr. 1:3; 9:12-14, 24-28; 10:11-14; dll.). Paulus sepakat dengan Yohanes (dan yang lainnya) dengan mengatakan bahwa penebusan kita tuntas dalam Kristus! (1 Yoh. 2:2).

Jadi apanya yang kurang kalau begitu? Dalam sebuah kotbah, seseorang pernah berkata bahwa yang Paulus maksudkan di sini adalah presentasi, bukan penebusan yang tidak lengkap. Presentasi adalah menerima Injil dan mempresentasikan Firman Allah dalam keutuhannya kepada kaum pilihan dari “setiap suku, kaum, bahasa, dan bangsa” dan meneruskan pengharapan KerajaanNya (Wah. 13:8) kepada seluruh dunia (Mat. 28:18-20). Di sanalah Paulus, yang terpasung bagaikan penjahat, berkata, “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal” (2 Tim. 2:6-10). Tidak heran Paulus dan yang lainnya mampu bersukacita dalam berkat dari penderitaan (Kol. 1:24; Rom. 5:3; Kis. 5:41; 1 Pet. 4:12-16). Mereka melihat keselamatan orang lain sebagai sebuah berkat!

Umat Allah tentu mengalami kesulitan! Kadang penderitaan menimpa kita (mis. Yusuf dan Ayub). Yesus berkata, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33). Paulus berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan” (Fil. 4:12 KJV). Namun demikian, dalam semua pencobaan ini, Allah disingkapkan sebagai penyedia puncak (Maz. 68:10; 111:5; 147:9) dan penopang kita (Maz. 3:5; 18:35; 41:3; 51:12; 54:4; 55:22; 119:116; Yes. 46:4). Dalam penderitaan, kita diberikan kesempatan untuk berjalan karena percaya bukan karena melihat (2 Kor. 5:7). Ini adalah sebuah kesempatan untuk menunjukkan misteri Injil kepada yang lainnya. Apakah ada korban yang terlalu besar demi penyebaran Injil? TIDAK! Apakah ini berkat paling berharga? YA! (Fil. 1:20, 29).

Saat Gereja mengalami masa kesukaran, Allah tidak akan melihatnya ditinggalkan (Rom. 8:35-39; 2 Kor. 4:17-18). Gereja (kita) seharusnya mampu untuk berkata bersama Paulus, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa” (2 Kor. 4:8-9). Mungkin kita akan ditindas, namun kita akan bangkit kembali. “[S]ebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali” (Ams. 24:16). Sekalipun kita mungkin kadang kelaparan, kita tidak akan benar-benar ditinggalkan, karena Allahlah penopang dan penyedia kita.

Lukas 16 (sebagaimana Maz. 37) mengkontraskan kesudahan si jahat dengan masa depan orang benar. Dari konteksnya, perumpamaan di Lukas 16 dirancang untuk perluasan pengabaran Injil. Pada akhirnya, sang pengemis (Lasarus) tidaklah ditinggalkan Allah dan malah terlihat berada di pangkuan Abraham. Seperti yang Charles Spurgeon pernah katakan:

Malapetaka dan kemunduran mungkin merebahkannya; mungkin dia, seperti Ayub, direnggut dari segalanya; seperti Yusuf, dipenjarakan; seperti Yunus, dilempar ke tempat dalam. Tetap dia tidak akan benar-benar dibuang. Dia akan dipaksa berlutut, namun bukan terbujur; atau jika rebah pasrah untuk sesaat, tidak lama lagi dia akan dibangkitkan. Tidak ada seorang kuduspun yang akan jatuh total atau fatal. Kedukaan mungkin menurunkan kita ke bumi, dan kematian mungkin menuntun kita ke liang kubur, namun lebih rendah dari itu, bukanlah bagian kita, dan dari yang terendah inilah kita akan bangkit ke tempat tertinggi.

Pada akhirnya, orang kaya itu justru menjadi pengemis selama-lamanya, mengalami kehausan yang tidak akan pernah terpuaskan! (Markus 9:48). Namun, “Sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya” (Maz. 37:28). Orang benar tidak akan pernah ditinggalkan!

Referensi

Walter A. Elwell, Baker's Evangelical Dictionary of Biblical Theology, Theology of the Poor and Poverty, Baker Books, 1996.

C. H. Spurgeon, Psalms, Crossway Classic Commentaries, Wheaton, IL: Crossway Books, 1993.

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).