Apakah bumi ini akan tinggal tetap selamanya?

Pertanyaan

Beberapa bagian Firman mengatakan bahwa bumi ini akan tinggal tetap selamanya (Pkh. 1:4) dan bagian lain mengatakan tidak (Yes. 65.17; 2 Pet. 3:10-13; Wah. 21:5, dll.). Mana yang benar? Baca juga - (Pengkhotbah 1:4 vs. Yesaya 65:17; 2 Petrus 3:10-13).

Jawaban

Pertanyaan yang bagus.

Pertama, dalam konteksnya, mungkin perlu disampaikan bahwa Pengkhotbah bukanlah menegaskan bahwa bumi "tidak akan pernah berakhir" (tetap akan terus berlanjut dalam sesuatu bentuk). Namun, kitab ini sedang mengkontraskan kodrat manusia yang tidak kekal dengan kodrat dunia yang berkelanjutan. Kitab ini mengakui suatu hal yang benar di masa lampau, dan mengatakan bahwa hal ini akan terus berlanjut sebagai hal yang benar di masa depan. Tetapi tidaklah menjanjikan bahwa hal ini akan terus senantiasa benar. Bahkan sesungguhnya, kita tahu bahwa nantinya ini akan berubah drastis. Bukankah ketika Yesus datang kembali, generasi demi generasi tidak akan datang dan pergi lagi - kematianpun akan mati. Tidak ada alasan untuk membayangkan bahwa Pengkhotbah sedang menyangkal penghakiman masa depan atau perubahan-perubahan yang mungkin timbul sebagai akibat dari intervensi Allah dalam dunia (mis. penghakiman, pembaruan). Sesungguhnya, ayat penutup dari kitab tersebut mengingatkan kita secara khusus bahwa penghakiman ilahi akan tiba - "Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat" (Pkh. 12:14).

Kedua, definisi "selamanya" juga fleksibel. Ini bukanlah berarti "tidak akan pernah berakhir." Sering artinya hanyalah "dalam waktu yang sangat lama." Dapat juga berarti "berkelanjutan," seperti dalam hal, "sampai terjadi perubahan besar." Dan sebagaimana kebanyakan hal di Alkitab, pernyataan tentang hal-hal yang bertahan "selamanya" menyertakan secara tersirat akan peringatan bahwa Allah dapat mengubah mereka jika Dia mau. Ayat yang dikenal banyak orang adalah Mazmur 23:6. Kita sudah mendengarkan ayat ini dikutip pada banyak pemakaman, biasanya dalam konteks bahwa seseorang berdiam bersama Tuhan dalam cara yang "tidak berkesudahan," dll. Pemazmur berkata, "Sesungguhnya, kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa." Walau benar seorang Kristen MEMANG diam bersama Tuhan "selamanya" (tidak berkesudahan), konteks dari Mazmur 23:6, TIDAK berarti "tidak berkesudahan," namun merujuk pada 'masa hidup,' yang paralel dengan "seumur hidupku" di bagian pertama dari ayat tersebut.

Ketiga, selain fakta-fakta di atas, BARU dalam bahasa Grika tidak selalu berarti "benar-benar baru"; terkadang artinya DIPERBAHARUI (natur atau kualitas yang baru). Allah berkata, "Aku menjadikan segala sesuatu baru!" (Wah. 21:5). Penglihatan di Wahyu 21 menyingkapkan sebuah dunia tanpa dosa dan akibat dosa: tidak ada kesakitan, air mata telah dihapuskan, tidak ada penderitaan; tidak ada kematian atau pengrusakan; tidak ada kejahatan. Namun, bukankah inilah keadaan pada awalnya (Kej. 1-2) SEBELUM Kejatuhan, SEBELUM kutukan (Kej. 3)? Ada sebuah awal baru yang megah. Namun, apakah Allah akan memulai "sepenuhnya dari awal"? Apakah rencana Allah yang pertama benar-benar gagal, atau karena Dia maha tahu, ini memang sudah menjadi rencanaNya sejak awal; yaitu akan ada pemberhentian sementara yang dikarenakan Kejatuhan, dan kemudian akan memurnikan dan mentahirkan apa yang telah jatuh? Bukankah kita melayani Allah yang mendatangkan keteraturan dari kekacauan sejak paling awal mulanya? Baca Kejadian 1.

Wahyu 21 mengimplikasikan bahwa dunia ini akan dipulihkan atau diperbaharui dengan memiliki kodrat atau kualitas yang baru, dan bukannya menjadi sebuah bumi yang benar-benar sepenuhnya baru dan berbeda. Perubahan ini sedemikian radikalnya sampai istilah ba'ra (Yes. 65:17; bdg. Kej. 1:1) dapat digunakan untuk menjabarkannya. Jadi, ketika kita memahami penggunaan Alkitab dengan semestinya dan makna dari istilah-istilah tertentu, Pengkhotbah 1:4, "Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada" tidaklah bertentangan dengan Yesaya 65:17, "Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru [diperbaharui] dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati." (bdg. Wah. 21:5, dll.).

Esensinya, bumi akan tinggal tetap selamanya, hanya saja tidak dalam bentuk yang sama. Keempat, ada yang mengajarkan bahwa 2 Petrus 3:10-12 kelihatannya merujuk kepada pemusnahan dunia dengan api yang secara hurufiah benar-benar melumerkan bumi; pembinasaan total. Namun saat dibaca dalam konteks 2 Petrus 3:6 yang menyebutkan air bah Nuh; bumi tetap ada, tapi dalam bentuk yang berbeda. Kelihatannya 2 Petrus 3:10-12 adalah sebuah penjabaran dari dua dimensi berbeda yang digabungkan bersama - yang ilahi dengan bumi yang diperbaharui (Wah. 21). Pertanyaan yang perlu diajukan adalah apakah api penghakiman akan sepenuhnya membinasakan atau hanya memurnikan dunia? Di Alkitab, api penghakiman menghancurkan yang jahat, namun juga memurnikan yang baik ("Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji"; 1 Kor. 3:10-15). Tanyakan pada diri anda sendiri, mengapa seluruh ciptaan mengerang dalam menantikan anak-anak Allah dinyatakan jika SELURUH ciptaan, tanpa pengecualiaan, akhirnya toh akan dibinasakan sepenuhnya - benar-benar dilumerkan dengan api (2 Pet. 3:10-12)? Sebagaimana Paulus menulis di Roma 8:20-22:
Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.

Argumentasi lainnya adalah jika SEMUA orang pilihan - tanpa pengecualian - akan menjadi BENAR-BENAR BARU - berarti orang baru YANG LAINLAH yang akan menerima buah dari pekerjaan mereka. Ketidakadilan seperti ini bukanlah bagian dari ekonomi Allah. Lebih alkitabiah untuk memahami bahwa gereja Allah akan DIPERBAHARUI (orang yang fana ini akan menerima kekekalan dan yang dapat rusak ini, tidak dapat rusak lagi - 1 Kor. 15, dll.) Bukankah kita akan dijadikan seperti Kristus (1 Yoh. 3:2)? Sekalipun diperbaharui, orang-orang tetap masih mengenali Kristus setelah kebangkitanNya (mis. Tomas, murid-murid dalam Perjalanan ke Emaus, di tepian Laut Galilea bagi Petrus, dan setelah kenaikanNya di Jalan ke Damsyik bagi Saulus dari Tarsus, dll.).

Jadi ya, bumi akan tinggal tetap selama-lamanya dan demikian pula para orang kudus yang akan mendiaminya - hanya saja tidak dalam cara yang sama yang kita kenal sekarang! Sekalipun semua hal akan menjadi BARU, tetap akan berhubungan dengan yang LAMA (bagaimana hubungannya kita tidak ‘sepenuhnya’ tahu) - oleh karenanya “diperbaharui” adalah istilah yang lebih baik untuk memahami hal-hal ini.

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).