Cinta Sesama Jenis?

Pertanyaan

Roma 1 berbicara tentang “nafsu” seksual, bukan “cinta” seksual. Apakah pantas untuk mengasumsikan kalau cinta (bukan nafsu) sesama jenis diijinkan oleh Alkitab?

Jawaban

Dalam menjawab pertanyaan ini penting sekali untuk menjabarkan beberapa istilah alkitabiah dari perspektif Allah yang kudus dan memahami definisi Allah akan “cinta” yang berhubungan dengan pasangan (keluarga). Cinta romantis yang alkitabiah diungkapkan dalam Alkitab sebagai sebuah kesatuan yang hanya dapat terjadi antara lawan jenis, yang kemudian menghasilkan sebuah keluarga yang alkitabiah. Ketika Allah mencari pasangan untuk Adam, Allah tidak menemukan pasangan yang tepat dari dunia hewan, dan Dia juga tidak sekadar menciptakan Adam #2 bagi Adam #1. Allah menciptakan Hawa, seorang manusia yang berlawanan jenis (Kej. 2:18-25).

John Frame, profesor Teologi Sistematik di Reformed Theological Seminary berkata:

Keluarga dimulai saat Allah menciptakan manusia “laki-laki dan perempuan” (Kej. 1:27). Kejadian 2:18-25 memberikan catatan yang lebih panjang tentang penciptaan perempuan yang memberikan kejelasan bahwa kedua jenis kelamin memang dirancang untuk pernikahan (ayat 24-25). Kepada mereka berdualah diperintahkan untuk “berbuah dan bertambah banyak” (Kej. 1:28) untuk dapat memenuhi dan menaklukkan bumi. Sehingga pertama-tama, keluarga adalah cara yang Allah berikan untuk melaksanakan mandate budaya. Mandat budaya tidak dapat dikerjakan oleh satu orang sendirian, [juga tidak dapat dikerjakan dengan etika “cinta sesama jenis]. Mengerjakan mandat budaya membutuhkan kerja keras banyak pihak: seisi keluarga dan para kerabat keluarga pihak laki-laki dan perempuan. [perkataan dan penekanan pribadi].

Allah telah merancang sejak awal mulanya, konteks dari seksual alkitabiah dan cinta keluarga, sehingga tidaklah mungkin bagi hubungan homoseksual menjadi cinta alkitabiah. Akitbatnya, karena hal ini dan alasan-alasan lainnya, Alkitab menyebut hubungan homoseksual sebagai “tidak wajar” dalam Roma 1. Kata “wajar” tidak pernah berarti “apa yang wajar bagi saya” baik dalam literatur Yunani maupun Alkitab [De Young, 1988).

D. Patrick Ramsey dalam tulisannya tentang Roma 1 menyebutkan:

Terlebih lagi, ayat 27 menyatakan bahwa laki-laki akan meninggalkan atau mengabaikan “fungsi wajar perempuan.” Pengabaian ini tidaklah subjektif atau pilihan pribadi (sesuai orientasi seksual masing-masing); hal ini objektif dan umum (fungsi seksual perempuan). Satu alasan Allah menciptakan manusia dengan dua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) adalah untuk tujuan kepuasan seksual. Perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki untuk perempuan. Oleh karenanya, Paulus mengatakan bahwa tubuh suami adalah milik istrinya dan tubuh istri milik suaminya (1 Kor. 7). Masing-masing harus saling memperoleh dan memenuhi kepuasan seksual mereka. Akibatnya, saat seorang laki-laki mencari kepuasan seksualnya dari laki-laki lain, Paulus mengatakan dia meninggalkan fungsi perempuan sesuai bagaimana dia dicipta atau “wajar”. Singkatnya, menurut Roma 1:26-27, homoseksualitas tidak “normal” atau “wajar.” Homoseksualitas juga tidak bersalah atau dapat diterima secara moral. Homoseksualitas adalah tidak wajar dan berdosa.

Oleh karenanya, secara alkitabiah kita memahami bahwa cinta sesama jenis, atau hubungan homoseksual adalah berdosa (penuh hawa nafsu, bukan mencintai) berdasarkan standar alkitabiah.

Roma 1:18-32 sangatlah jelas:

Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

Sebagaimana tertera di atas, pembelaan umum atas homoseksualitas atau cinta sesama jenis sudah bisa diduga dalam Alkitab (Rom. 1:28) karena hal tersebut berdasarkan natur kerusakan total (sebagaimana layaknya semua dosa). Bagi yang ingin membela gaya hidup homoseksual jelas sedang menukar kebenaran Allah dengan dusta (Rom. 1:25). Mengubah istilah atau frasa yang digunakan (mis. homoseksualtias diubah menjadi cinta sesama jenis) tidaklah mengubah realita dosa atau hukumannya di masa kini (penyakit, dll) dan dalam kekekalan nanti. Hubungan homoseksual, atau cinta sesama jenis, harus dihukum seturut dengan natur Allah yang kudus. Namun, bagi kaum pilihan yang telah terikat oleh hubungan (hubungan) semacam ini, tetap tersedia kelepasan dan kelahiran kembali di dalam tangan satu-satunya Penebus yang penuh kasih, Tuhan Yesus Kristus (Ef. 1:7; Kol. 1:14; bdg. John 3:1-8).

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).