Firman Allah yang Tak Bercela

Pertanyaan

Mengingat kesulitan dalam mengukuhkan Kanon, dapatkah kita sungguh-sungguh menyebut Alkitab “Firman Allah yang Tak Bercela”? Saya percaya bahwa Allah memakai dan berbicara melalui manusia, namun Dia kan tidak “merasuki” mereka. Jadi kelihatannya tidak tepat menyebut Alkitab sebagai “Firman Allah.”

Jawaban

Anda mengangkat paling sedikit tiga isu signifikan: inspirasi, tanpa kesalahan/kesempurnaan, dan Kanon.

Tentang isu pertama, banyak kaum Injili memegang posisi yang kita sebut sebagai inspirasi “mekanis,” yang adalah ide bahwa Allah “merasuki” mereka, mengambil alih kemanusiaan mereka sehingga para penulis ini tidak terlalu berbeda dengan boneka. Satu tingkat di bawah posisi ini kadang disebut sebagai “pendiktean,” dimana Allah tidak merasuki para penulis, namun memberitahukan mereka setiap kata untuk ditulis. Doktrin yang lebih liberal, kadang menyebut hal ini sebagai inspirasi “romantis,” yang menganggap Allah menggerakkan manusia untuk menulis, namun tidak mengatur penulisan mereka sedemikian rupa sampai mereka tidak mampu untuk melakukan kesalahan, salah mengajarkan doktrin, salah menghakimi, dll. Ini merupakan satu cara untuk tiba pada ide bahwa Alkitab “mengandung” Firman Allah (berarti beberapa tulisan dalam Alkitab adalah Firman Allah, dan yang lainnya bukan). Pandangan yang paling liberal, tentu saja, adalah bahwa Alkitab sepenuhnya murni karya manusia. Tidak ada satupun dari posisi di atas yang disetujui oleh teologi Reformed.

Teologi Reformed berpegang pada posisi yang kita sebut “inspirasi organik.” Ini adalah pandangan bahwa Roh Kudus menginspirasi manusia untuk menulis, dan membimbing penulisan mereka sedemikian rupa sehingga makna asali adalah tanpa kesalahan. Namun, Roh Kudus melakukan hal ini melalui kepribadian para penulis. Mereka tidak dirasuki dan Allah tidak memberitahukan setiap kata demi kata. Bagaimanapun juga, melalui kepribadian dan perkataan para penulis, di bawah inspirasi Roh, mereka menuliskan kata-kata yang sepenuhnya disetujui oleh Allah. Lagipula, karena mereka adalah utusan perjanjian, maka bukan hanya perkataan mereka benar adanya, yang lebih penting lagi, perkataan mereka berotoritas. Alkitab adalah Firman Allah karena membawa otoritas yang telah didelegasikan, bukan karena kata-kata mereka berasal dari diri sendiri (bdg. WCF 1.4).

Mungkin keberatan anda cukup beralasan terhadap mereka yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah karena Alkitab mencatat perkataan yang Allah ucapkan, diktekan, atau tuliskan sendiri. Namun, ini bukanlah argumentasi Reformed, atau pendapat dari banyak yang lainnya di kubu Injili. Argumentasi Reformed bahwa Alkitab adalah “Firman Allah” tidaklah didasarkan pada ide bahwa Allahlah yang mengeluarkan kata-katanya, tapi otoritas Allah mendukung kata-kata tersebut.

Tentang isu kedua, kebanyakan kaum Injili tidak mengklaim bahwa naskah Alkitab yang ada saat ini adalah tanpa kesalahan dan/atau tanpa kekurangan apapun dan/atau tak bercela. Namun mereka klaim bahwa naskah asalilah (mis. autographa) yang tanpa kesalahan dan/atau tanpa kekurangan apapun dan/atau tak bercela. Namun dengan mengatakan seperti ini, banyak yang membatasi ketakbercelaan dari doktrin dan makna yang dimaksud dari penulis awal dan akhirnya malah tidak menerapkan kesempurnaan ini secara luas dalam setiap detil dengan terperinci.

Bagaimanapun, hampir setiap akademisi Injili akan mengakui keberadaan banyak kesalahan dalam naskah yang ada sekarang dikarenakan “transmisi” yang tidak sempurna (kesalahan dalam menyalin, pengeditan naskah, dll.). Kita memiliki naskah dengan beraneka ragam pembacaan, naskah dengan perikop-perikop yang melaporkan jumlah yang berbeda dengan perikop yang sama dalam naskah yang lain, naskah-naskah dengan perikop yang hilang atau tambahan, dll. Kita tidak mengatakan bahwa kita tahu persis apa yang disampaikan oleh autographa (naskah asali). Kita menegaskan bahwa pengetahuan kita cukup untuk diyakinkan bahwa salinan yang kita miliki secara akurat mewakili pengajaran Alkitab dalam setiap hal yang penting.

Ketiga, pembentukan Kanon adalah proses yang dilakukan manusia. Doktrin Injili tidak berpegang pada posisi bahwa proses ini adalah tanpa kesalahan dan/atau tanpa kekurangan apapun dan/atau tak bercela. Sudah sejak lama sikap kaum Prostestan adalah bahwa Kanon merupakan sebuah “koleksi yang bisa salah yang terdiri dari kitab-kitab tanpa kesalahan.” Sekalipun banyak yang percaya bahwa Allah mengawasi sedemikian rupa dalam proses pembentukan kanonisasi Alkitab sehingga Kanon tidak mengikutsertakan kitab yang tidak seharusnya ikut masuk, hal ini sama sekali berbeda dengan kalau kita menganggap Kanon adalah tanpa kesalahan dan/atau tanpa kekurangan apapun. Untuk mengatakan bahwa mereka yang melakukan proses pengumpulan tersebut sama sekali tidak bersalah adalah sangat berbeda dengan mengatakan bahwa mereka bisa saja bersalah. Anda mungkin dapat membaca T&J yang saya berikan dalam artikel Tanpa Kesalahan dan Kanonisasi.

Secara pribadi, saya sama sekali tidak melihat hal ini sebagai masalah dengan menyebut Alkitab sebagai “Firman Allah yang tak bercela,” sekalipun saya rasa ada kesalahan dalam proses transmisi naskah, dan sekalipun saya tidak percaya bahwa proses kanonisasi adalah tanpa kesalahan (baca tautan T&J di atas). Alkitab adalah tanpa cela sepanjang ia membawa otoritas Allah yang sempurna dan tak bercela, dan sepanjang pengajaran doktrinnya benar. Alkitab tak bercela sepanjang ia sesuai dengan standar literasi dan akurasi dalam pelaporan, dll. Jadi, walaupun saya mungkin akan mengeluhkan beberapa terjemahan yang buruk atau beberapa perikop yang patut dipertanyakan, ide atas kesempurnaan Alkitab yang permanen sama sekali tidak sulit untuk saya terima.

Jawaban oleh Ra McLaughlin

Ra McLaughlin is Vice President of Finance and Administration at Third Millennium Ministries.