Mengapa Mendengarkan Salomo?

Pertanyaan

Dalam 1 Raja-raja 11:6 dikatakan bahwa Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, tapi Amsal 1 malah memerintahkan kita untuk mendengarkan hikmatnya? Hal ini sama sekali tidak masuk akal.

Jawaban

Ada beberapa penulis yang disebut dalam kitab-kitab Amsal: Salomo (1:1; 10:1; 25:11), Hizkia (25:1), Agur (30:1), dan Lemuel (31:1). Tidak ada satu pun di antara semua penulis ini yang tidak berdosa (Rom. 3:23). Jadi, pertanyaan anda memiliki implikasi yang jauh lebih luas: mengapa kita harus mendengarkan para penulis Alkitab?

Kita tidak bergantung pada Alkitab oleh karena hidup, pemikiran, atau perbuatan para penulisnya yang sempurna. Kita bergantung pada Alkitab oleh karena Alkitab diinspirasikan oleh Roh Kudus:

2 Timotius 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

2 Petrus 1:20-21 Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

Jadi jelas terlihat, Penulis Kitab Suci adalah Roh Kudus. Namun, Allah dapat menggunakan cara apapun untuk mengkomunikasikan kebenaranNya – bahkan seekor keledai (Bil. 22:21-41; 2 Pet. 2:15-16), sebuah batu (Lukas 19:39-40), atau penulis-penulis lainnya (“p” huruf kecil). Hanya oleh kasih karunia Allahlah penulis manusia dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan penyingkapan Allah.

Salomo meminta kepada Tuhan untuk diberikan kemampuan menghakimi Israel dan untuk dapat “membedakan antara yang baik dan yang jahat” (1 Raja-raja 3:9). Hikmat Salomo ada dalam Alkitab karena Allah secara supernatural mengkomunikasikannya kepada dia untuk memerintah umatnya (1 Raja-raja 3:3-15). Oleh karena itu, sama seperti yang lainnya, Salomo adalah sebuah corong yang Allah pakai untuk mengkomunikasikan FirmanNya, sekalipun Salomo tidak sempurna.

Karena ini adalah perkataan dari Allah yang Maha Kuasa, bukan hanya kita harus mendengarkannya, kita harus mengikutinya (Maz. 119). Firman ini mengubah hidup. Firman ini hidup. Roma 13:13 meyakinkan Agustinus. Bagi Martin Luther Roma 1:17 yang berbicara. Bagi Jonathan Edwards 1 Timotius 1:17.

Kali pertama yang dapat saya ingat, tentang perasaan yang meluap dari dalam akan suatu kesukaan yang manis di dalam Allah dan hal-hal ilahi, dan sejak saat itu telah saya jalani dengan sungguh di dalam hidup, adalah saat membaca perkataan ini, 1 Tim. 1:17, “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.” Ketika saya membaca kata-kata tersebut, ada sesuatu yang masuk ke dalam jiwa saya… suatu perasaan akan kemuliaan dari Sang Sosok Ilahi; sebuah perasaan yang baru dan cukup berbeda dari apapun yang pernah saya alami sebelumnya. Belum pernah perkataan lain dari Alkitab memberikan perasaan seperti ini sebagaimana yang ditimbulkan oleh perkataan tersebut. (Karya Jonathan Edwards, vol. 1, hal. 12).

Firman mengubahkan saat kita membacanya, mempelajarinya, merenungkannya, dan Roh Kudus mengaplikasikannya. Walaupun Allah menggunakan manusia untuk menuliskannya, Firman sungguh berasal dari Allah. Ya, manusia yang mengucapkan dan menuliskannya, namun Firman dihembuskan oleh Allah sendiri. Ini adalah Firman Allah yang hidup (1 Pet. 1:23). Sekalipun kepribadian para penulis dan gaya tulisan terlihat di dalam ayat-ayat tersebut, tetap Allahlah Sang Penulis. Apa yang para penulis Alkitab tuliskan bukanlah semata-mata dari sudut pandang mereka yang terbatas; sebaliknya yang mereka tuliskan adalah penyingkapan Allah. Para penulis Alkitab bukanlah sumber dari kebenaran. Mereka hanyalah alat, agen, saluran yang dipakai untuk mengkomunikasikan. Alkitab adalah Kitab Suci Allah. Firman adalah Firman Allah. Kebenaran adalah kebenaran Allah. Semua penyingkapan di dalamnya adalah penyingkapan Allah. Maknanya adalah makna Allah. Para penulis dituntun sepenuhnya oleh Roh Kudus. Firman tidaklah dibiarkan hanya tergantung pada kemampuan atau keinginan manusia belaka. Roh Kudus sendiri yang menuntun semua proses sampai pada perampungan.

Mohonlah kepada Allah untuk mengaplikasikan FirmanNya yang indah, berharga, mengubah kehidupan, dan hidup atas anda hari ini.

Baca juga:

Firman Allah yang Tak Bercela

Inspirasi dan Akurasi

Tanpa Kesalahan (Ineransi) dan Kanonisasi

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).