"Sekali Diselamatkan, Selamanya Diselamatkan"

Pertanyaan

Apakah anda percaya akan “sekali diselamatkan, selamanya diselamatkan?”

Jawaban

Kami percaya bahwa kaum pilihan selamanya diselamatkan dalam anugrah Allah yang menyelamatkan. Sekali seseorang dilahir-barukan oleh karya Roh Kudus, maka hal ini tidak dapat pernah dan tidak akan pernah dibatalkan atau diputar-balikkan. Seperti yang Paulus tuliskan, “Sebab, anugerah dan panggilan Allah tidak dapat dibatalkan” (Rom. 11:29).

Namun, frasa ini sudah dipelintir sedemikian rupa karena sering digunakan untuk menutupi dosa yang disengaja, atau dengan kata lain, “Toh aku sudah selamat jadi aku bisa hidup sesukaku dan semakin aku berdosa semakin anugrah berlimpah atasku.” Pemikiran ini pada dasarnya dikenal sebagai antinomianisme, menganggap bahwa yang telah diselamatkan tidak terikat untuk menaati hukum moral Allah. (Dan seperti Yudas Iskariot, tidak semua orang yang mengakui Kristus memiliki Dia.) Namun, Paulus jelas tentang hal ini: “Jadi apa yang harus kita katakan? Apakah kita akan terus dalam dosa supaya anugerah semakin berlimpah? Tentu saja tidak!” (Rom. 6:1; bdg. Rom. 6:2). Orang Kristen telah dihidupkan di dalam Kristus (Ef. 2:4-5). Mereka milik Kristus. Mereka tidak semakin berbuat dosa, namun menganggap diri mereka mati terhadap dosa dan membencinya (Rom. 6:11). Jadi saat orang percaya terus bertumbuh dalam anugrah dan kebenaran merekapun semakin membenci dosa. Mereka semakin menanggalkan manusia lama (Ef. 4:22) dan terus menerus semakin dibentuk lebih menyerupai Kristus (Rom. 8:29; Ef. 4:23-24). Umat percaya sejati membenci dosa. Mereka lari dari dosa. Mereka membunuh dosa.

Dalam hal ini, ada masalah yang lebih besar terhadap seseorang yang mengatakan “sekali diselamatkan, selamanya diselamatkan” karena hal ini menyarankan bahwa mereka percaya manusia dapat berkontribusi atas keselamatannya sendiri dengan kehendak bebasnya sendiri. Hal ini disebut sinergisme, yang berarti kombinasi dari beberapa kekuatan atau suatu kekuatan gabungan (Allah manusia) yang menyelesaikan keselamatan. Orang seperti ini biasanya juga percaya akan prevenient grace (anugrah yang diberikan sebelum kita memintanya). Namun keyakinan seperti ini gagal untuk memahami bahwa sebelum lahir baru (hidup baru) setiap manusia pada hakekatnya mati rohani dalam pelanggaran dan dosa (Ef. 2:1-3). Mati ya mati! Orang yang mati rohani tidak dapat memilih apapun! Tidak ada seorangpun yang dapat memercayai injil (Rom. 8:7-8) sampai mereka telah dilahirkan kembali, yang sepenuhnya adalah karya Allah. Terlebih lagi, jika manusia ikut berkontribusi atas kelahiranbarunya sendiri, berarti dia juga dapat kehilangan hal tersebut. Oleh karenanya, sinergisme percaya pada rasa tidak aman total dan merupakan distorsi sepenuhnya dari berita injil Kristus.

Kami percaya frase “pemeliharaan orang kudus” lebih tepat. Mengapa? Keamanan selamanya adalah karya Allah yang terus-menerus berkelanjutan di dalam kita yang diawali pada saat seseorang percaya dalam Yesus (Yoh 3:36). Ini adalah kata kepemilikan dalam bentuk masa kini (Yoh. 4:14; 5:24; 6:27, 40, 47) dan bersifat kekal, artinya selama-lamanya. Allah yang memulainya di dalam kita dan Dia yang akan menyelesaikannya di dalam kita – “Sebab, Allahlah yang bekerja di dalam kamu, baik untuk mengingini maupun untuk mengerjakan apa yang menyenangkan-Nya” (Fil. 2:13) sehingga Dia dapat “memperlengkapi [kita] dalam setiap hal yang baik untuk melakukan kehendak-Nya. Dan, biarlah Ia bekerja di dalam kita untuk menyenangkan hati-Nya melalui Kristus Yesus, yang kepada-Nyalah kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin” (Ibr. 13:21).

Terlebih lagi, frasa “pemeliharaan orang kudus” menekankan kasih dan karya Allah dalam memilih dan menyelamatkan kita (Ef. 1:4-6). Hal ini sepenuhnya bergantung pada apa yang Allah telah kerjakan, sedang kerjakan, dan akan kerjakan agar kaum pilihan benar-benar sepenuhnya dapat bertahan. Paulus sedemikian yakin akan kenyataan ini sehingga dia menggunakan kata Yunani edoxasen dalam Roma 8:30. Kata ini adalah aorist indicative yang mengindikasikan sesuatu yang telah diselesaikan di masa lalu. Dengan kata lain, setiap orang percaya sejati, tanpa terkecuali, akan dimuliakan. Paulus menegaskan tidak ada satupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah (Rom. 8:35-39).

Dalam Pengakuan Iman Westminster, Pasal 17, “Tentang Pemeliharaan Orang-orang Kudus,” kita disuguhkan definisi yang lebih lengkap:

Mereka, yang Allah telah terima dalam bagian Orang yang DikasihiNya, telah secara efektif dipanggil dan dikuduskan oleh RohNya, yang tidak mungkin dapat, secara total atau tuntas, keluar dari status menerima kasih karunia; namun pasti akan bertahan sampai akhirnya, dan untuk selama-lamanya diselamatkan.

Pemeliharaan orang kudus tidak bergantung pada kehendak bebas mereka sendiri, namun atas keputusan pemilihan Allah yang tidak dapat berubah (immutable), yang mengalir dari kasih Allah Bapa yang cuma-cuma dan tidak berubah; berdasarkan kemanjuran (efficacy) dari karya dan perantaraan Yesus Kristus; Roh yang berdiam dan benih Allah yang ada di dalam mereka; dan hakekat dari anugrah perjanjian: dari semuanya inilah timbul kepastian dan ketidakmungkinan untuk gagal.

Namun demikian, mereka mungkin, oleh karena godaan Setan dan dunia, termasuk kebobrokan yang masih bercokol di dalam mereka, dan pengabaian dari semua cara yang dipakai untuk pemeliharaan mereka, jatuh dalam dosa yang menyedihkan; dan untuk sementara waktu, tetap bertahan di dalamnya: dimana mereka mendapatkan Allah tidak berkenan, dan mendukakan Roh Kudus, mereka kehilangan sebagian takaran anugrah dan kenyamanan mereka; hati mereka dikeraskan, dan nurani mereka dilukai, disakiti dan menyakiti yang lain, yang mendatangkan penghukuman untuk sementara waktu bagi diri mereka sendiri.

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).

Q&A