Pembelajaran tentang Pertobatan – Mazmur 51

Pertanyaan

Saya sudah selamat, namun bagaimana saya bertobat atas dosa-dosa saya secara rutin?

Jawaban

Sering orang menanyakan, “Bagaimanakah Saya Bertobat atas Dosa-dosa Saya Di Hadapan Allah?” Jawaban Allah ditemukan dalam Mazmur 51.

Daud menuliskan Mazmur ini, yang merupakan satu dari tujuh Mazmur pertobatan (Mz. 6, 32, 40, 102, 130, 143). Mazmur ini adalah doa pribadi yang juga adalah sebuah kidung untuk disenandungkan di dalam hati kita. Topiknya: Pertobatan.

Daud berdosa (2 Sam. 11; Yer 17:9; Rom 3:23). “Dosa adalah apapun yang kurang dari keserupaan atas, atau pelanggaran terhadap hukum Allah” (WSC [Katekismus Westminster Singkat] 14). Daud telah melakukan perbuatan zina dan kemudian pembunuhan. Namun, tidak ada satu hal pun yang tersembunyi dari Allah (Bil 32:23). Jadi, Natan, si juru bicara Allahpun menghampiri Daud dan memberitahukan dia akan dosanya. Respon Daud, “Aku telah berdosa terhadap Tuhan” (2 Sam 12:13). Atas kejadian inilah Daud menorehkan Mazmur 51.

Penting untuk diketahui bahwasanya Daud tidaklah serta merta bertobat atas dosa zinanya. Beberapa waktu sudah berlalu. Daud berbuat zina, membunuh Uria di medan perang, dan Batseba sudah pindah tinggal dengannya, dll. Setelah melewati masa kesesakan (Mz. 32:3-4), Allah membawa Daud kepada pertobatan pada waktuNya! Pertobatan adalah karunia yang diberikan hanya di dalam waktunya Allah (Kis 11:18; 2 Tim. 2:24-26).

Aplikasi pribadi dari Mazmur ini bisa diterapkan dengan beraneka macam cara. Untuk bagian ini Roh Kuduslah yang mengaplikasikannya secara pribadi kepada masing-masing umatNya:

Mazmur 51:1

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!

Mazmur ini tidak diawali dengan mencari-cari alasan, mengasihani diri, atau meminimalisir apa yang Daud sudah lakukan. Sebaliknya tulisan ini mulai dengan sebuah jeritan yang nyaring kepada Allah: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu.” “Kasihanilah” merujuk kepada seseorang yang sama sekali tidak pantas untuk menerima kebaikan sehingga dia memohon. “Kasih setia” adalah sebuah kata perjanjian. Untuk semua ketidaklayakannya Daud tahu bahwasanya dia masih tetap milik kepunyaan Allah.

Daud memahami betapa mengerikannya dosanya. Dia patut mati oleh karena dosa-dosanya. Semua dosa memang pantas menerima kematian. Jadi, Daud benar-benar tahu diri dan tidak meminta keadilan. Dia tahu persis kalau dosanya adalah melawan Allah. Dia tahu hanya ada satu jalan keluar untuk membereskan dosanya. Jadi, dia memohon akan anugrah Allah semata-mata. Anugrah selaras dengan dua hal, (1) kasih setia dan (2) belas kasihan Allah.

Allah mengasihi umatNya. Dia mengasihi Adam, sekalipun dosanya membawa malapetaka ke dalam dunia dan dosa atas setiap manusia. Dia mengasihi Musa sekalipun Musa tidak menaatiNya. Dia mengasihi Petrus sekalipun Petrus menyangkal Yesus tiga kali. Dia mengasihi Paulus yang menganiaya gerejaNya. Dan sekalipun dosanya amatlah besar, Daud tahu bahwa Allah juga mengasihinya. Jika anda adalah milik Allah, maka Diapun mengasihimu.

Anugrah Allah yang tidak sepantasnya kita terima adalah satu-satunya harapan bagi setiap kita. Umat Allah bertobat karena mereka dikasihi Allah (Rom 2:4; 1 Yoh 4:19). Allahlah yang memimpin umatNya kepada pertobatan (Fil 2:14), yang merupakan karuniaNya (2 Tim 2:24-26).

Daud memohon akan belas kasihan agar pelanggaran-pelanggarannya dapat dihapuskan. “Dihapuskan” mengacu kepada dakwaan secara hukum di pengadilan. Dakwaan pada masa itu dituliskan dengan tinta di atas (kertas) perkamen. Intinya, Daud memohon Allah untuk melarutkan tinta yang ditorehkan dalam dakwaan terhadapnya. Daud merindukan agar tuntutan kesalahannya disingkirkan oleh kuasa yang melampaui dirinya. Apa harga yang harus dibayar? Salib sendiri (Kol 2:14).

Daud memohon akan belas kasihan; bukan keadilan. Dia tahu dosanya tidak dapat ditolerir. Demikian pula halnya dengan semua dosa kita. Namun kemurahan Allah begitu berlimpah atas mereka yang percaya kepadaNya:

Ratapan 3:21-24 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya; selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, “oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.”

Allah menerima pertobatan yang sejati. God accepts genuine repentance. “Jika kita mengakui dosa-dosa kita, Dia adalah setia dan adil untuk mengampuni dosa-dosa kita dan untuk membersihkan kita dari semua kejahatan” (1 Yoh 1:9).

Mazmur 51:2

Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!

Noda dosa amatlah dalam. Sangat serius. Bukan hanya ibarat aliran sungai namun samudera luas di dalam masing-masing kita. Kita semua adalah pendosa yang jauh lebih besar dari yang pernah kita pikirkan, namun di dalam Kristus kita juga jauh lebih diampuni (Rom 5:20).

Dalam ayat ini, kata Ibrani untuk “seluruhnya” adalah rabah, yang artinya menjadi besar atau banyak. Saat digunakan dengan sebuah kata kerja aktif maka kata itu berarti melakukan sesuatu dengan berulang-ulang. Daud merasa bahwa dosanya sudah sedemikian dalamnya sehingga membutuhkan pembasuhan berulang kali. Seharusnyalah setiap dosa membuat kita merasa seperti ini.

Di sini kita melihat bagaimana Daud mengakui betapa jahat, durjana, buruk, salah, tidak bermoral, berdosa, busuk, keji, hina, rusak, hancur, kejam, amat jahat, ganas, niat jahat dan tercela secara moral dosanya di hadapan Allah. Sekalipun día seorang raja, sama sekali tidak ada ruang untuk pembenaran politis. Tidak ada upaya untuk meminimalisir dosanya. Tidak ada upaya untuk melindungi reputasinya. Daud terbuka dan jujur. Día benar-benar merasa ngeri atas dosanya terhadap Allah. Betapa mengerikannya noda dosa!

Betapa indahnya kepastian teguran Tuhan akan dosa. Keyakinan teguran Roh Kudus sangat membantu untuk sadar dan tahu diri (2 Tim 2:24-26). Dia memampukan kita untuk membenci dosa sebagaimana Allah adanya. Ini adalah bagian yang dibutuhkan dalam pertobatan sejati.

“Basuhlah aku” dan “tahirkanlah aku” adalah puisi Ibrani yang mengulang ide yang sama dua kali untuk penekanan. Kata Ibrani pertama cavas artinya merendam dan mencuci; sama seperti mencuci pakaian di atas papan cuci agar bisa cerah dan bersih. Perhatikan bahwa ini adalah pekerjaan Allah. Kata kedua tahaer artinya mencerahkan sesuatu; menjadikannya seperti baru. Kata ini dipakai ketika membersihkan orang kusta. Daud rindu jiwanya dibasuh dari noda yang ada, untuk terlihat segar dan baru kembali. Daud tidak ingin dikucilkan.

Daud rindu agar dosa-dosanya di hadapan Allah lenyap. Dosa adalah hutang besar. Berarti membutuhkan Penebus yang lebih besar. Darah Yesus AnakNyalah yang membasuk kita dari semua dosa (1 Yoh 1:7; Wah 1:5; bdg. Yes 6:7; Mat 6:12; Tit 2:14; Wah 7:14).

Kita tidak dapat menyingkirkan konsekuensi dengan kemampuan sendiri. Air mata, permintaan maaf, dan kesedihan yang diungkapkan dengan bertele-tele tidak cukup. Apa yang mampu menghapus kesalahan kita? Hanya anugrah Allah semata yang sanggup menghapus bahkan noda-noda yang terdalam.

Mazmur 51:3

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

Daud bukan hanya berbicara tentang satu dosa di sini. Día memakai kata jamak: “pelanggaran-pelanggaranku.” Dalam beberapa ayat pertama ini Daud memakai empat kata untuk menjabarkan dosa. Daud tidak sedang meremehkan dosanya. “Pelanggaran-pelanggaran” (Mz 51:1) merujuk kepada dengan sengaja melanggar batas tertentu. “Kesalahan” (Mz 51:2) mengimplikasikan sebuah kesesatan. “Dosa” (Mz 51:2) adalah luput dari target yang telah Allah tetapkan. Dan “jahat” (Mz 51:4) merujuk kepada sifat dosa yang melawan Allah, jelek dan memuakkan.

Semua dosa diarahkan untuk melawan Allah. Walau Daud juga berdosa terhadap Batseba, Uria, dan seluruh bangsa Israel, dosa apapun terhadap orang lain pada hakekatnya adalah dosa melawan Allah yang telah menetapkan batasan-batasan dosa. Ada polusi moral yang dalam bercokol di dalam semua kita. Kita bukan hanya punya satu dosa, tapi banyak. Tidak ada kedamaian di dalam relung hati kita yang terdalam sampai tangki septik ini disingkirkan.

Pengakuan berarti sepakat dengan Allah. Dalam 1 Yohanes 1:9 kita menemukan kata Yunani homologeo yang berarti, "mengatakan yang sama." Berarti, pengakuan dosa adalah mengatakan hal yang sama dengan Allah tentang dosa kita. Ini artinya kita perlu untuk memahami baik dosa kita dan Allah. Kita perlu untuk bertanya tentang dosa kita dan tentang siapa Allah. Apa itu dosa? Apa akarnya? Siapa Allah? Apa yang Dia rindukan?

Dosa Daud telah dibeberkan oleh Allah. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenali hatiku! Ujilah aku dan kenali pikiran-pikiranku!” (Mz 139:23; bdg. Mz 19:12; 26:2-3; Ams 17:3; Yer 17:10). Dalam Mazmur 51:3, kita perhatikan adanya akuntabilitas pribadi: "aku," "punyaku," "milikku," and "diriku." Daud sadar semua dosa ini miliknya. Semuanya. Sekalipun seorang raja besar, di hadapan Allah, Daud seorang yang rendah hati. Roh Kudus mengerjakan karya pertobatan di dalam Daud (2 Tim 2:24-26). Kedalaman dosa kita seharusnya mendorong kita dekat kepada Allah, bukan menjauhi Dia. Kehancuran hati adalah bagian dari pertobatan. Kita tidak akan memahami anugrah Allah yang luar biasa sampai kita memahami kedalaman dosa kita sendiri. Pertobatan, sungguh sebuah karunia yang menakjubkan!

Hati nurani adalah sesuatu yang indah (Kis 23:1; 24:16; Rom 2:14-15; 9:1; 1 Kor 4:4; 2 Kor 1:12). Ketika nurani sudah diterangi dan tunduk pada Firman Allah dan Roh kita harus menurutinya. Namun manusia telah mencari-cari beragam penemuan atau skema-skema untuk meredam suaranya. Mereka mencari cara untuk menyembunyikan dosa mereka. Beberapa memilih untuk mengabaikan nurani dan berharap rasa bersalah akan dengan mudahnya lenyap. Namun waktu tidaklah menyembuhkan semua luka. Yang lain mencoba melakukan banyak hal untuk mencoba menyeimbangkan rasa bersalah dan kebaikan; dengan berharap timbangan dapat berpihak pada sisi pekerjaan baik mereka. Namun berapapun banyaknya air yang ditambahkan ke dalam reaktor nuklir, día tetap reaktor nuklir sehingga airnya tidak cocok untuk diminum. Rasa bersalah yang besar akan tetap tinggal. Beberapa menyalahkan orang lain atas kesakitan dan rasa bersalah mereka. Tetapi sebagaimana yang terjadi di Taman tetap penghakiman akan datang. Ada yang mempercantik dosa mereka dengan menjabarkan ulang dosa tersebut. Zina hanya dianggap sekadar kencan biasa. Namun bahkan jika anda mengenakan pakaian pada babi, tetap akhirnya ia akan kembali ke kubangan lumpur. Ada yang lain mencoba untuk mematikan rasa bersalah mereka dengan narkotika, alkohol atau kesenangan berlebihan lainnya. Namun hal ini justru memperparah keadaan karena dosa dan rasa bersalah jadi berlipat ganda. Upaya untuk menutupi dosa kita tidak akan berhasil dan bahkan dapat menumpulkan nurani kita (1 Tim 4:1-2).

Nurani kita adalah sistem alarm yang sudah menyatu bahwa ada sesuatu yang salah di dalam kita. Kita harus mendengarkan bisikannya dan mengakui di hadapan Allah bahwa memang kita salah. Kita tidak seharusnya meragukan, tapi larilah ke Salib. Ada kelegaan dalam anugrah Allah semata. Día memberikan kita anugrah untuk membenci dosa sebagaimana layaknya Dia membenci. Dia menyingkapkan kasihNya dan Dia menyembuhkan jiwa.

Hanya Yesus yang dapat menghilangkan noda dosa (Yes 53:4-6; 2 Kor 5:21). Karya pembasuhan Kristus hanya dapat diaplikasikan kepada hati kita oleh anugrah (Ef 2:8-9; Tit 3:3-5). Karya ini selalu terbuktikan oleh pertobatan sejati dan pengakuan iman (1 Yoh 1:9). Pengampunan hanya tersedia di dalam Kristus. Dialah satu-satunya harapan kita (Rom 5:1-6). Akuilah dosa-dosamu segera dan senantiasa.

Seseorang hanya dilahirbarukan satu kali dan dinyatakan benar dalam Kristus. Namun, sekalipun orang tersebut sudah dibebaskan dari dosa (Yohanes 8:36) mereka masih berdosa. Tinggallah di Salib. Akui dosamu.

Mazmur 51:4

Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

Sebagai mantan Detektif Pembunuhan dengan mudah saya dapat menyaksikan bahwa tidak ada yang Namanya kejahatan tanpa korban. Korban muncul dalam bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Tubuh kita bukanlah milik kita sendiri (1 Kor 6:18); dan sesama kita diciptakan dalam rupa dan gambar Allah (Kej 1:26; bdg. 38:9). Sekalipun kita mungkin tidak mampu mengidentifikasi setiap korban, paling tidak kita dapat mengidentifikasi satu, yaitu Allah sendiri. Kita semua diciptakan seturut dengan gambar Allah sehingga dosa apapun terhadap sesama kita adalah dosa melawan Allah juga. Dosa menyinggung Allah! Ini adalah pengkhianatan. Dosa membuat Dia murka (Mz 7:11). Dosa mendukakanNya (Kej 6:6). MenyedihkanNya (Yer 8:18-9:3). Semua dosa adalah pelanggaran hukum Allah (1 Yohanes 3:4).

Tentu saja Daud tahu kalau dosanya bukanlah tanpa korban. Satu dosa menggelinding menyusuri tumpukan kotoran dan menjangkiti: Batseba, Uria, putra Daud, dan kerajaannya. Daud tahu hal ini, tapi tetap dalam doanya dia berkata, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat.”

Cinta terbesar Daud adalah Allah (1 Sam 13:14). Dia menyinggung Allah yang dia kasihi. Apa lagi yang bisa lebih buruk dari ini? Setelah Petrus menyangkal Kristus tiga kali, dia keluar dan menangis tersedu-sedu (Lukas 22:62). Tidak ada yang lebih buruk dari berdosa melawan Allah. Bagi yang sekadar merasakan duka duniawi mengecilkan Allah dalam pengakuan mereka, namun mereka yang kepadanya diberikan duka ilahi memahami bahwasanya dosa menyinggung Allah! (2 Kor 7:10). Pertobatan sejati melibatkan menghidupi duka ilahi dalam hal-hal tentang dosa.

Daud menambahkan bahwa dia telah melakukan apa yang jahat di mata Allah. Kejahatan adalah apa yang Allah katakan jahat. Tidak boleh diminimalisir. Menjabarkan ulang dosa anda tidak akan membantu. Dosa dengan nama lain tetaplah dosa (Yes 5:20). Menyebut sebuah jamban sebagai oase yang menyegarkan tidaklah menjadikan airnya pas untuk konsumsi.

Semua dosa terpampang di hadapan Allah. “Dosamu akan menimpa kamu” (Bil 32:23). Berpikir bahwa anda dapat menyembunyikan dosamu adalah sama dengan pekerjaan orang bodoh karena Allah Maha Tahu. Dia mengenal kita luar dalam. Día sudah tahu dosa apa yang akan anda lakukan besok dan hari berikutnya. Tidak ada gunanya berupaya menyembunyikan dosa dari Allah (Kej 3:7-11).

Daud tahu Allah adil; “supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Allah berdaulat. Dia berhak menuntut kesempurnaan dan ketaatan. Sebagai Raja, Allah berhak untuk menghakimi mereka dalam kerajaanNya. PenghakimanNya selalu benar. Tidak ada pembelaan atas dosa di hadapan Allah.

Namun penghakiman bukan hanya hak Allah, tapi juga adalah kebutuhan ilahi. Membiarkan dosa tanpa hukuman adalah menyangkal karakterNya sendiri. Dia harus menuntut hukuman penuh!

Apa hukuman dosa? Maut, maut, maut! (Rom 3:23). Allah itu kudus dan tidak dapat melihat kejahatan tanpa berbuat apapun (Hab 1:13). Dan keadilan menuntut sebuah keputusan. Semua bersalah di hadapan Allah. Maut menanti.

Namun, Allah juga adalah kasih (1 Yohanes 7-8). Sehingga bagi umatNya, Dia telah menetapkan sejak semual untuk mengutus anakNya yang tunggal ke kayu Salib (Kis 2:22-23; 4:27-28; Gal 4:4; 1 Pet 1:19-20) dan membayar tuntas hukuman atas dosa, yang benar dikorbankan bagi yang tidak benar (1 Pet 3:18; bdg. Yoh 15:13; Rom 5:6-9). Yesus memuaskan tuntutan Allah, sekali untuk selamanya bagi umatNya (Ibr 10:10; bdg. Ibr 2:14; 7:27; 9:14).

Walaupun Daud tidak mengetahui semua detil di atas, dia kenal Penebusnya. Sebagaimana halnya Abraham, Daud mengenal Injil (Gal 3:8; bdg. Kej 3:15; Mz 18:2, 46). Daud tahu harganya telah dilunasi. Sehingga dalam pengakuan Daud kita menyaksikan dia tenang beristirahat dalam pengampunan total dari Kristus semata.

Mazmur 51:5

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan dalam dosa aku dikandung ibuku.

Daud menyadari kedalaman dari kebobrokan dan ketidakmampuannya secara total (bdg. Yes 6:5). Sejak lahir; Daud memang dikandung di dalam dosa. Daud melihat dirinya sebagaimana Allah melihat dia; dalam kerusakan menjijikkan natur alaminya. Dia tahu dia berada di “dalam Adam.” Dia tahu dia mewarisi “dosa asal” (Rom 5:12; 1 Kor 15:22; WSC 16). Dia juga tahu bahwa dia sendiripun ikut menambahkan dosa ("aku," "punyaku," "milikku," and "diriku," Mz 51:3; 58:3). Jadi, dosa Daud adalah miliknya sendiri, sepenuhnya tidak dapat ditolerir, namun yang paling parah, justru di dalam elemen dosa-dosa inilah dia hidup.

Sungguh sebuah karunia yang menakjubkan untuk mampu melihat diri kita sebagaimana Allah melihat kita! Untuk memahami dosa dan akarnya, betapa indahnya, karena hanya saat itulah kita dapat menghadapi monster jelek korupsi dan rasa bersalah yang mencondongkan kita untuk mendukakan Allah. Penyingkapan dosa-dosa Daud hanyalah menyingkapkan apa yang memang selama ini sudah lama bercokol! Seekor anjing bersikap layaknya seekor anjing, demikian juga dengan seekor singa. Memang sudah sifat alaminya. Dan seorang pendosa akan bersikap layaknya seorang pendosa. Kita bukanlah pendosa karena kita berdosa, kita berdosa karena memang kita pendosa.

Hati kita memang sudah rusak. Condong melakukan kejahatan (Yer 17:9). Sekalipun seorang Kristen mengenal Allah, tetap mereka berhadapan dengan monster ini setiap detik setiap hari (1 Yoh 1:8-10). Ada konflik yang terus terjadi antara daging dan Roh (Rom 7:23). Walaupun bertentangan dengan natur perjanjian Allah untuk membatalkan keselamatanNya (2 Tim 2:13; Yoh 6:35-40; 10:25-29; Rom 8:28-39; 1 Kor 1:4-9; 2 Kor 4:13-14; Ef. 1:13-14; 4:30; Fil 1:6; 3:20-21; Kol 3:3-4; 1 Tes 5:23-24; 1 Pet 1:3-5; 1 Yoh 2:19; 5:4; Yudas 1:1, 24-25), tetap orang kudus dapat mendukakan dan memadamkan Roh (Eph 4:30; 1 Thess 5:19). Hal ini terasa lebih buruk dibandingkan sama sekali tidak diselamatkan karena orang kudus tahu apa yang mereka kehilangan.

Kerusakan total kita tidak dapat diatasi oleh pekerjaan baik kita; karena memang pekerjaan baik ibarat kain kotor (Yes 64:6, kain pembalut). Hanya aplikasi dari kebenaran Kristus dalam anugrahlah yang mampu. Dalam Pertukaran Agung ini, Allah membereskan dosa orang percaya sekali untuk selamanya (Ibr 7:27; 9:14; 10:19):

  • (1) Allah mengambil semua debit pendosa (dosa/kejahatan) dan memindahkannya ke perhitungan di buku besar Kristus (2 Kor 5:21), dan
  • (2) Allah mengambil alih semua kredit Kristus (kebenaran) dan memindahkannya ke akun perhitungan orang percaya (1 Kor 1:30).
  • Mazmur 51:6

    Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

    Daud menggunakan kata “Sesungguhnya (behold – lihatlah) di Mazmur 51:5 dan kembali diulang di Mazmur 51:6. Jadi, pertama-tama Daud mengakui masalahnya dengan dosa dan lantas día menyorot apa yang seharusnya ada. Berarti, bagian dari pengakuan kita yang berkelanjutan adalah sepakat dengan Allah akan apa yang ada di dalam kita dan apa yang memang seharusnya ada! Allah tidak menghendaki melihat dosa dalam hati kita, namun hikmatNya! Kebencian harus diganti dengan kasih; pencurian dengan kejujuran, dll (Ef 4:22-32; Kol 3:1-17; 4:8-9).

    Selanjutnya Daud memohon akan “hikmat.” Ini adalah hikmat untuk bagaimana berjalan dengan cara yang Allah kehendaki día kerjakan. Daud ingin memahami kebenaran (Yoh 8:32) dan agar Roh mengaplikasikannya di dalam hati, pikiran, dan perbuatannya. Dengan kata lain, saat godaan kembali memunculkan wujud jeleknya di kali berikutnya, Daud berharap hikmat Allah dapat mengubah cara dia berespon (bdg. Ibr 11:24-25). Sebagaimana Paulus menulis di Roma 6:17-18, “Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.”

    Mazmur 51:7

    Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

    Hisop adalah tanaman yang digunakan para imam di bait Allah untuk ritual pemurnian. Hisop biasanya dicelup dalam air atau dalam darah dari hewan korban persembahan. Lantas hisop tersebut dipakai untuk memercik seseorang atau altar. Hal ini sebagai lambang dari tindakan Allah yang menyucikan hati kita di hadapanNya.

    Hisop adalah pertanda pentahiran yang diperoleh melalui Kristus di Kalvari. Bilangan 19:6 menyertakan penggunaan kayu aras, sebatang hisop, dan kain merah. Semua hal ini adalah alat pembersih untuk ritual. Di atas Salib kepada Yesus diberikan “bunga karang yang telah dicelupkan ke dalam anggur asam pada sebatang hisop” (Yoh 19:29). Perhatikan ada ranting kayu, hisop, dan warna anggur ialah merah = kayu aras, hisop, dan kain merah. Yesus mendeklarasikan bahwa penebusan dosa sudah “selesai” (Yoh 19:30). Ada pengampunan dalam Kristus.

    Memang ini adalah perihal pembasuhan saat Daud melanjutkan dengan perkataan, “basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju.” “Putihnya salju” berkaitan dengan kusta (Im 13:14). Kusta dipakai Allah untuk mewakili dosa dan kerusakan yang ditimbulkannya di Israel. Mereka yang terjangkit diusir keluar perkemahan. Pada tahap awal kusta, muncul daging liar yang nantinya berubah menjadi putih dengan serpihan kulit kering. Ritual pentahiran bagi mereka yang sudah sembuh dari kusta adalah dua ekor burung, kayu aras, hisop, dan kain merah (Im 14:4, 6, 49, 51-52).

    Ketika kusta berubah menjadi putih seperti salju artinya penyakitnya telah berlalu. Jadi seorang imam akan pergi keluar perkemahan untuk memeriksa orang bekas kusta tersebut (Im 13:13). Barulah langkah ritual dilaksanakan. Selama langkah ritual, hisop dicelup di dalam darah satu ekor burung (yang dibunuh dalam bejana dari tanah liat yang dikucuri air yang mengalir), dan imam lantas memercikkannya kepada orang bekas kusta sebanyak tujuh kali. Setelah hisop dicelupkan dalam darah dari burung pertama, maka burung ke dua pun akan dilepaskan (baca Im. 14). Bandingkan dengan Yesaya 1:18.

    Sekalipun masih ada lebih banyak hal yang terlibat dalam ritual dimaksud (baca Im. 13-14), setelah tujuh hari orang kusta akan menerima percikan darah anak domba yang dijadikan korban. Yesus diwakili oleh anak domba tersebut, yang menghapus dosa umatNya (Yoh 1:29; 1 Pet 1:19-20; 1 Yoh 1:7). Darah akan disapukan di ujung telinga, jempol tangan kanan, dan jempol kaki kanan. Telinga mewakili pemulihan telinga/hati seseorang untuk mendengarkan Injil, jempol tangan kanan adalah lambang melakukan apa yang benar, dan jempol kaki kanan untuk berjalan dalam jalanNya Allah. Jadi, orang yang dulunya kena kusta bisa kembali bersekutu dengan seutuhnya bersama Allah dan komunitasnya.

    Pengakuan dosa yang benar akan mengembalikan seseorang kepada persekutuan dengan Allah dan komunitasnya. Inilah yang dirindukan Daud. Dan mengutarakan iman di dalam kemampuan Allah untuk mentahirkannya. Dia tidak berkata mungkin aku menjadi tahir, namun “maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju.”

    Mazmur 51:8

    Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!

    Daud menyadari bahwa dia tidak dapat kehilangan keselamatannya; dia masih tetap mengharapkan berkat yang besar sekalipun dia telah berdosa. Walaupun dia berdosa dengan tidak taat kepada Allah dan hati nuraninya, kini día berharap untuk dapat mendengar suara Allah sekali lagi. Sekalipun dia telah mendukakan dan memadamkan Roh (Ef 4:30; 1 Tes 5:19), dia berharap dapat kembali bersuka cita. Dalam iman, dia berharap sepenuhnya dipulihkan. Daud kelihatannya sedang membayangkan saat orang yang terusir dapat pulang kembali kepada masyarakat, disambut dengan gegap gempita perayaan yang meriah.

    Walaupun Daud dilumpuhkan oleh dosanya, dia mengenal Sang Dokter Agung. Daud melihat dosa-dosanya sebagai penyebab dari penghukuman Allah (“tulang yang diremukkan”) dan dia rindu agar penghukuman itu dapat disingkirkan. GWT mencatat, “kiranya tulang-tulang yang telah Kau remukkan dapat menari-nari.” Hal ini merujuk kepada pemulihan total, bukan pendampingan setengah hati.

    Mazmur 51:9

    Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku!

    Menggemakan Mazmur 51:1, Daud tahu benar kalau dosanya mendukakan Allah (Hab 1:13), namun memohon agar Allah bersedia “menyembunyikan wajahNya” dari dosa-dosanya. Daud bukan meminta agar Allah sekadar mengabaikan dosanya. Dia paham betul kalau pelanggaran dosa-dosanya dapat disingkirkan dari jiwanya. Paulus berkata, “Diberkatilah orang yang dosanya tidak diperhitungkan oleh Tuhan!” (Rom 4:8).

    Jika seseorang rindu untuk bersekutu dengan Allah maka dosa-dosa mereka harus disingkirkan. Dalam Perjanjian Baru, kita belajar bagaimana Yesus menutupi dosa kita dengan cara membayarnya dengan hidupNya sendiri. Inilah yang disebut dengan “penebusan/pendamaian dosa” (Ibr 2:17). Dalam kasihNya, Kristus memuaskan secara tuntas bagi seluruh dosa umatNya di Kalvari (Yoh 15:13). Keadilan Allah dipuaskan dan Yesus berkata, "Sudah selesai" (Yoh 19:30).

    Dalam keselamatan agungNya, karya Kristus yang tuntas ini diaplikasikan kepada umat percaya oleh Roh. Merekalah “orang benar.” Dosa-dosa mereka ditutupi, atau ditebus/diperdamaikan; noda menjijikkan beserta kutukannya disingkirkan. Orang kusta dipercikkan untuk melambangkan penghapusan dosa dan demikian jugalah dengan altar Perjanjian Lama. Dalam Kristus, semua orang Kristen dipercikkan oleh darah Yesus Kristus (Ibr 12:24-25). Pengorbanan Kristus sempurna adanya dan tuntas, yang berefek mujarab dari dirinya sendiri. Tidak ada satu halpun yang dapat ditambahkan atasnya (Gal 3:3; 5:4).

    Daud memohon Allah menutupi semua kesalahannya. Ini adalah bahasa hukum. Daud bersalah atas dosanya, berarti dia memang pantas menerima dakwaan. Namun demikianpun, Daud meminta agar dosanya ditutupi sepenuhnya – agar dakwaannya dapat dibasuh sepenuhnya (baca Kis 3:19; Kol 2:14).

    Mazmur 51:10

    Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

    Daud manyaksikan bagaimana dosa-dosanya menggerogoti keteguhannya dalam jalannya Tuhan, dan día rindu agar hal ini dapat diubahkan. Sebagai ganti dosanya, Daud merindukan hati yang bersih dan roh yang teguh. Kata Ibrani bara berarti “menciptakan.” Ini adalah kata yang sama yang digunakan dalam Kejadian 1:1 untuk penciptaan dunia secara ex-nihilo (dari yang tidak ada). Daud rindu kembali menjadi seperti sebelum día verdosa. Penghapusan dosa hanya dapat dikerjakan oleh Sang Pencipta! Spurgeon menuliskan di dalam Perbendaharaan Daud:

    Penciptaan kita “di dalam Yesus Kristus” bukan hanya sekadar memperkuat kekuatan kita, bukan hanya menambahkan kelemahan alami kita dengan kuasa dari anugrah Allah, bukan pula sekadar sebuah perubahan, perbaikan dari kebiasaan moral kita; namun ini adalah penciptaan dari yang tidak ada, dari apa yang tidak kita miliki sama sekali sebelumnya. Tidak ada satupun dalam kita untuk dapat dijadikan bahan dasar. Kita sudah busuk, rusak, mati di dalam pelanggaran dan dosa. Apa yang sudah mati tidak akan dapat berubah menjadi hidup kecuali diinfuskan sesuatu yang tidak dimiliki. Apa yang rusak bukanlah menerima sesuatu yang sehat, namun diselamatkan justru lewat mematikan diri dan digantikan dengan ciptaan baru.

    Namun maknanya berlanjut lebih jauh. Walaupun ini adalah kata yang mengacu kepada sesuatu hal yang hanya Allah mampu kerjakan, kata tersebut juga dapat mengacu kepada sebuah proses yang berkelanjutan, termasuk sebuah tindakan yang seketika itu juga (bdg. Kej. 2:3). Yang Daud rindukan adalah perubahan dan ketenangan yang bertahan. Inilah doa seorang raja yang telah lahir baru, yang merindukan kekudusan yang utuh dan terus-menerus.

    Daud menghampiri Tuhan dengan hati yang hancur dan merendahkan diri agar dapat dibasuh. Tidak ada pekerjaan baik yang cukup untuk kita kerjakan atau penderitaan yang dapat kita hadapi yang mampu membasuh dos akita. Hanya dalam penebusan dosa Kristuslah pembasuhan dosa kita dimungkinkan. Ibrani 10:22 berkata, “maka marilah kita mendekat kepada Allah dengan hati yang tulus dalam keyakinan iman yang penuh, dengan hati kita yang telah dibersihkan dari nurani yang jahat, dan tubuh yang telah dicuci dengan air murni.”

    Mazmur 51:11

    Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku.

    Daud menyadari bagaimana dosanya menggerogoti hadirat Allah dan kepenuhan RohNya di dalam hidupnya, dan merindukan hal-hal ini dapat dibalikkan kembali. Daud tidak mau sampai diasingkan Allah. Ini bukan berbicara tentang kehilangan keselamatannya (2 Tim 2:13; Yoh 6:35-40; 10:25-29; Rom 8:28-39; 1 Kor 1:4-9; 2 Kor 4:13-14; Ef. 1:13-14; 4:30; Fil 1:6; 3:20-21; Kol 3:3-4; 1 Tes 5:23-24; 1 Pet 1:3-5; 1 Yoh 2:19; 5:4; Yudas 1:1, 24-25). Dia telah menunjukkan di banyak bagian Firman lainnya bahwa dia percaya pada penebusan dosa sepenuhnya dari Salib. Jadi, Daud bukanlah sedang khawatir akan kehilangan meterai Roh (Ef 1:13-14).

    Apa yang Daud khawatirkan adalah persekutuannya dengan Allah. Roh hinggap di atas Raja Saul untuk sementara waktu demi melakukan tugas seorang raja (1 Sam 10:1, 6, 9). Saat Raja Saul berdosa dengan sangat menyedihkan (1 Sam 13:9), Allah menyingkirkan berkatNya. KerajaanNya disingkirkan dari Saul (1 Sam 16:13-14; 18:12; Dan 2:21).

    Daud menyaksikan langsung kejatuhan Saul. Dia tahu persis Saul telah berdosa dengan amat menyedihkan. Día tidak mau menerima hukuman yang sama seperti Saul. Día tidak mau ditinggalkan seperti Raja Saul. Dia rindu memerintah Israel sebagai Raja yang telah Allah karuniakan kepadanya (Ams 3:5-8). Daud tidaklah hanya sekadar meresahkan doktrin pemeliharaan, tapi bagaimana menghidupinya (Yoh 15:6; 1 Kor 9:27).

    Mazmur 51:12

    Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

    Daud bukanlah meminta untuk diselamatkan kembali; jelas hal itu tidak mungkin. Namun, dia memohon agar kegirangan keselamatannya dipulihkan (Maz 40:8). Abraham adalah kawan Allah. Henokh berjalan bersama Allah. Namun, Daud adalah seorang yang berkenan di hati Allah (Kis 13:22). Daud menikmati persekutuannya dengan Allah. Namun kegirangannya telah diambil daripadanya oleh dosanya. Dia telah kehilangan kedamaian dalam pikirannya. Sekali lagi día merindukan hadirat Allah yang menghiburkan yang memberikan kegirangan itu padanya sebelumnya. Sebagaimana yang dituliskan Petrus, “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan” (1 Pet 1:8).

    Daud juga rindu agar rohnya dapat rela untuk menghormati Tuhan dalam segala perkara. Día rindu menaati hukum Allah dari lubuk hatinya dengan cinta.

    Selain mengakui dan bertobat dari dosa kita serta percaya kepada janji-janji Allah, bagian dari pertobatan adalah dibentuk ulang. Daud rindu dipelihara agar jangan terjatuh lagi. Dia tahu ini harus merupakan karya Allah. Paulus berkata, “sebab, Allahlah yang bekerja di dalam kamu, baik untuk mengingini maupun untuk mengerjakan apa yang menyenangkan-Nya” (Fil 2:13). Dia rindu agar pikiran dan hatinya berada dalam keadaan yang rela dan siap untuk melayani Tuhan.

    Daud memperlakukan dosanya dengan amat sangat serius dan dia percaya akan Allah yang berkelimpahan rahmatNya.

    Mazmur 51:13

    Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

    "Memulihkan" (Maz 51:12) dan “berbalik kembali” (Maz 51:13) adalah bagian dari kata kerja yang sama. Daud tahu bahwa Allah mampu memakai pengalamannya untuk memengaruhi yang lain (bdg. Lukas 22:32). Salah satu tujuan dari Mazmur ini terlihat dalam pemenuhan dari ayat ini. Mazmur ini bukan hanya sebuah pengakuan, tapi juga kidung pengajaran. Sebagai Raja dari sebuah kerajaan, Daud peduli akan rakyatnya. Pengakuan dosa bukan hanya tentang diri kita sendiri, namun orang lain juga. Daud rindu untuk dapat menolong para pendosa lainnya.

    Daud paham bahwa caranya Allah tentang pertobatan haruslah diajarkan. Ini adalah cara yang telah Allah tetapkan yang melaluinya Roh bekerja di dalam hati orang percaya ketika mereka berdosa terhadap Allah. Firman yang disingkapkan yang dihidupkan di dalam kita oleh anugrah Allah yang ajaib membeberkan kebutuhan kita dan mendorong kita menuju tangan penuh kasih dari Tuhan kita yang menebus. Jadi Daud paham betapa pentingnya bagi yang lain untuk juga melihat bagaimana Roh Kudus bekerja dalam situasi seperti ini; orang lain perlu belajar akan kekayaan pengampunan Allah yang penuh kasih. Artinya, pertobatan melibatkan kerendahan hati, keterbukaan, roh yang lembuh, dan hati yang juga peduli akan orang lain.

    Mazmur 51:14-15

    Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu! Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!

    Kata Ibrani untuk “hutang darah” adalah middamim yang berarti "kesalahan darah," "darah kehidupan," atau hanya "darah." Ini adalah bentuk jamak Ibrani atas penekanan yang lazim digunakan untuk kejahatan dengan hukuman mati. Daud melakukan zina dan mengatur kematian Uria. Ini semua adalah kejahatan yang pantas dihukum mati. Namun, di sini kita perhatikan imán Daud di dalam Tuhan untuk melepaskan día. Día ingin memuji kebenaran Allah yang karya agungnya adalah membenarkan orang berdosa.

    Daud mengakui bukan hanya dosanya, tetapi juga hukumannya. Pertobatan dengan kerendahan hati adalah jujur dengan Allah, yang dariNya tidak ada satu hal pun dapat disembunyikan (Ayub 26:6; Maz 33:13; 139:4; Ams 5:21; 15:3; Yer 16:17; 23:24; Ibr 4:13).

    Daud mengharapkan kegirangan yang tak tertahankan dalam pengampunan Allah. Namun, bukan hanya sekadar pengampunannya saja. Daud berkata, “lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu.” Dalam pengampunan, sebagaimana dalam keselamatan, ada keadilan Tuhan – kebenaranNya yang sempurna dan utuh – inilah yang membuat perbedaan. Daud mengantisipasi bisa bergirang dengan bersorak sorai terutama karena Allah tidak lagi tersinggung atasnya (Maz 40:3; Luke 7:47-48).

    Pengampunan adalah hal yang sangat indah, namun di dalam konteks Allah yang berdaulat atas seluruh semesta dan tidak lagi tersinggung pada kita menjadikanya jauh lebih kaya. Daud tahu dia pantas mati, tapi tetap mengantisipasi kesukaan di dalam Tuhan. Dia bukan berharap bahwa Tuhan mendadak amnesia (lupa ingatan) dan melupakan dosanya. Día tahu pelanggaran apapun terhadap Allah haruslah dipuaskan sepenuhnya; hutang harus dibayar lunas. Sekalipun día tidak pernah secara pribadi menyaksikan karya Kristus yang tuntas di Kalvari, día memahami janji Kejadian 3:15, yang menjadi pertanda di dalam hukum Taurat dan dikumandangkan berulang-ulang oleh para nabi. Inilah pengharapannya. Dalam Kristus semata!

    Mazmur 51:16

    Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.

    Hukum Perjanjian Lama mengatur korban persembahan. Bagaimana Daud dapat berkata bahwa Allah tidak berkenan atasnya? Tidak berkenan kepada korban sembelihan? Bukankah ini adalah korban sembelihannya Allah? Namun Daud mengerti bahwa ada yang lebih dari korban sembelihan Perjanjian Lama daripada sekadar menyelesaikan ritual di permukaan (bdg. 1 Sam 15:22). Ada maknanya; karena semua menunjuk kepada Dia yang akan menggenapi setiap korban sembelihan – Kristus Yesus Tuhan!

    Ritual dapat menjadi agama berdasakan pekerjaan baik dan tidak menyenangkan Allah. Pekerjaan merujuk kepada kemuliaan makhluk ciptaan, bukan Sang Pencipta. Iblis licik. Bahkan sebagian jemaat di Galatia pun kembali terjebak dalam pekerjaan bahkan setelah mereka ada di dalam Kristus (Gal 3:1-3; 5:4; bdg. Rom 4:4-5; 11:6; 2 Tim 1:9). Kita juga dapat terjebak dengan cara yang sama dalam doa kita, mengikuti Perjamuan Kudus, dll.

    Allah tidak kagum kalau seseorang dapat membunuh seekor binatang. Allah selalu memperhatikan hati. Dan perlu kita perhatikan bahwa korban sembelihan Perjanjian Lama sesungguhnya tidak menghapus dosa, tapi hanya menunjuk kepada Dia yang mampu menghapus dosa (Ibr 10:4-12). Ini adalah lambang janji perjanjian Allah – korban sembelihan puncak, Anak Domba yang disembelih sebelum dasar bumi (1 Pet 1:18-21). Oleh anugrah semata-mata, Allah mengaplikasikan karya Kalvari di masa depan atas umat percaya Perjanjian Lama.

    Bagi banyak di Israel, sistem pengorbanan mereka menjadi sebuah pekerjaan; sesuatu yang bersifat ritual dan bukan muncul dari kerendahan hati yang bertobat. Jika seseorang tanpa hati yang telah ditebus membawa korban sembelihan hal ini adalah penyangkalan dari penyediaan anugrah Allah. Hal ini menganggap bahwa manusia mampu menyelamatkan dirinya sendiri lewat ritual (pekerjaan). Penyembahan seperti ini dikutuk. Allah sama sekali tidak berkenan atasnya.

    Mazmur 51:17

    Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

    Daud tahu bahwa Allah tidak akan gagal untuk mendengarkan permohonannya. Kita melihat bagaimana Allah memang menjawab Daud dalam kelanjutan atas doa ini di Mazmur 32.

    Allah melihat hati. Sebuah bukti dari anugrah adalah “hati yang patah dan remuk” (bdg. Mat 5:3). Hati yang patah dan remuklah yang Tuhan tuntut. Inilah yang Allah berkenan (Lukas 18:13-14).

    Kata Ibrani dikah diterjemahkan “remuk,” berarti “dilumatkan” – digiling sampai menjadi bubuk halus (Maz 51:8; bdg. Bil 11:8). Kita harus dilumatkan di hadapan Allah. Kita harus mati sebelum kita dapat hidup (Rom 8:13). Beban dari Roh atas nurani seseorang akan melumatkan, namun membalut, bagaikan buah pertobatan Allah yang menghasilkan minuman anggur dari buah anggur yang dilumatkan.

    Daud dalam ayat-ayat sebelumnya telah memberitahukan kita wujud dari hati yang hancur: (1) tidak merasa ini hal yang pantas diterima (Maz 51:1); (2) menerima dosa sebagai miliknya dan tidak mencari-cari alasan (Maz 51:2); (3) mengakui dosa (Maz 51:3); (4) berduka atas aspek Allah dari dosanya (Maz 51:4); (5) tidak berdebat soal penghukuman dosa (Maz 51:4); (6) meratapi kebobrokan dosa secara umum (Maz 51:5); (7) rindu akan kekudusan, bukan hanya pengampunan (Maz 51:7); (8) hati yang menderita (Maz 51:8); tapi (9) tidak putus asa (Maz 51:9) - The Biblical Illustrator. Kerendahan hati yang remuk dan sukacita adalah pasangan yang serasi. Allah tidak memandang hina hal ini.

    Psalm 51:18-19

    Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem! Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya; maka orang akan mengorbankan lembu jantan di atas mezbah-Mu.

    Daud tahu dosanya mengakibatkan banyak masalah, termasuk yang menimpa bangsa Israel (Maz 51:11). Inilah doa Daud bagi restorasi nasional. Sion adalah bukit di Yerusalem. Di sanalah anak Daud, Salomo membangun Bait Allah. Untuk pembahasan “tembok-tembok” baca Nehemia 12:43.

    Daud rindu agar Bait Allah menjadi tempat bagi korban sembelihan sejati; suatu tempat yang sungguh menghormati dan menyembah Allah. Dia rindu Bait ini menjadi tempat yang aman, perlindungan dari semua musuh.

    Betapapun mengerikannya dosa Daud, día tidak ingin dosanya mendatangkan malapetaka bagi Israel. Día tidak mau mempertaruhkan penyembahan dan keamanan di Yerusalem. Inilah kerendahan hati dari seorang Raja yang dikaruniai Roh.

    Fokus utama Daud di sepanjang Mazmur ini adalah penyembahan akan Allah. Untuk menyenangkan Dia. Daud rindu dipulihkan kembali untuk menyembah Allah, agar Yerusalem dapat menyembah Allah dalam roh dan kebenaran juga (bdg. Yoh 4:24). Dia sedang mencari gereja yang dipulihkan; umat yang dipulihkan.

    Doanya menghasilkan sebagian buah dalam kedatangan Kristus yang pertama (Yoh 1:29) dan akan sepenuhnya dijawab pada Hari Penghakiman saat Kedatangan Kedua saat Yesus mengumpulkan mempelaiNya yang disebut gereja. Daud memang tidak melihat Kalvari, namun punya iman dalam Allah yang empunya Kalvari dan penebusan dosa yang dibeli di sana oleh Anak Allah. Apa yang tidak diselesaikan oleh korban sembelihan bakaran, digenapi oleh Salib (Ibr 10:12).

    Pertobatan: Sungguh sebuah Anugrah Ajaib!

    Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

    Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).