Aku Tidak Mau Punya Anak!

Pertanyaan

Saya sedang mempertimbangkan sebuah relasi romantis dengan seorang pria Kristen yang terbuka untuk pernikahan namun tidak ingin memiliki anak. Apakah hal ini hanyalah sebuah preferensi pribadi ataukah berdosa?

Jawaban

Dalam Firman, anak-anak adalah berkat utama dari perjanjian Allah dengan umatNya (Ul. 28). Ketika Allah menawarkan sesuatu sebagai sebuah berkat, Dia mengindikasikan bahwa hal itu baik dan sesuatu yang Dia anggap berharga. Dan secara umum, sebagai orang Kristen sepatutnyalah kita mengubah nilai-nilai yang kita pegang untuk menjadi sama dengan nilai-nilainya Allah (mis., Rom. 12:2), mencintai apa yang Dia cintai dan membenci apa yang Dia benci. Khusus merujuk kepada anak-anak, ini artinya kita seharusnya menganggap mereka berharga dan menilai mereka sebagai suatu hal yang baik.

Namun demikianpun, menghargai anak-anak secara umum memang berbeda dengan ingin memiliki anak-anak sendiri. Misalnya, Yesus tidak memiliki anak-anak sendiri, dan sejauh yang kita tahu Paulus pun tidak. Mereka menjadi dua contoh bagi kita akan pria-pria saleh yang lebih memilih hidup melajang ketimbang pernikahan demi mengejar sasaran-sasaran yang Allah telah tetapkan bagi mereka. Keduanya Yesus dan Paulus dengan penuh tujuan meninggalkan banyak berkat Allah agar dapat memperoleh lebih banyak berkat bagi gereja (mis., 2 Kor. 1:5-6; Ibr. 2:9-10).

Terkadang juga terjadi ketika tantangan hidup menjadikan hal yang tidak bijaksana jika menambah beban dalam memiliki dan membesarkan anak-anak. Misalnya dalam 1 Korintus 7 Paulus menasehati jemaat di Korintus untuk sementara menghentikan pernikahan, dengan sebagian alasan untuk mengurangi jumlah kelahiran anak-anak agar gereja mampu bertahan dalam menghadapi krisis saat itu (1 Kor. 7:26ff.; baca artikel Haruskah Orang Kristen Menikah?).

Jadi, seorang pria yang mengubah dirinya menjadi semakin serupa dengan standar Allah akan mengasihi dan menghargai anak-anak, namun dia juga akan rela melepas kesempatan untuk memiliki anak demi menyelesaikan sesuatu yang lebih besar bagi gereja. Atau bisa saja dia sedang menghadapi sebuah situasi dalam kehidupan dimana memiliki anak tidaklah disarankan. Pada umumnya, umat Allah diperintahkan untuk menikah dan beranak-cucu (Kej. 1:28). Dalam kondisi pengecualian, hidup melajang lebih disukai ketimbang menikah. Sesuai dengan pemikiran dari 1 Korintus 7, ada juga kondisi dimana pasangan menikah memilih dengan alasan dapat bertindak bijaksana untuk tidak memiliki anak, menunda memiliki anak, atau membatasi jumlah anak yang mereka miliki.

Namun saya harus menekankan bahwa anak-anak adalah berkat, dan bahwa kebanyakan orang yang menyesuaikan hidup mereka dengan standar Allah akan ingin memiliki anak. Sesungguhnya, Paulus bahkan di dalam 1 Timotius 2:15 sampai menyebut melahirkan anak adalah “keselamatan” bagi perempuan. Tentu saja bukan maksud Paulus mengatakan bahwa perempuan diampuni karena mereka memiliki anak. Sebaliknya, yang dia maksud adalah menjadi ibu yang setia adalah ciri unggul dan ideal seorang perempuan Kristen.

Keresahan saya yang terbesar bagi anda adalah berikut ini: Sekalipun tidak masalah jika seorang pria memilih untuk tidak memiliki anak demi menunaikan sesuatu yang lebih besar bagi kerajaan Allah, hal tersebut menjadi sebuah masalah jika pria tadi menikah dan memaksakan istrinya untuk tidak memiliki anak saat sang istri sebenarnya menginginkan anak. Sebaliknya, istri berhak untuk memiliki anak-anak dan menurut hemat saya, adalah berdosa jika menelantarkan mereka dari hak ini, berkat ini, cara ini untuk memenuhi perintah Allah untuk bertambah banyak dan memenuhi bumi, alat bagi “keselamatan” ini. Jika seorang perempuan setuju untuk melepaskan berkat ini demi kepentingan yang lebih luas bagi kerajaan Allah, dia memang berhak untuk membuat pengorbanan tersebut. Namun suaminya tidak berhak untuk memaksakan pilihan ini terhadapnya.

Kelahiran Dan mengilustrasikan ide ini (Kej. 30:1dst.). Rahel dan Lea keduanya menikah dengan Yakub. Rahel cemburu atas Lea karena Lea memiliki anak sementara día tidak. Jadi, Rahel melampiaskannya atas Yakub. Karena Allah tidak membuka rahim Rahel, pantas Rahel merasa putus asa dan berkeluh kesah kepada suaminya untuk menolong día. Respon Yakub (“Akukah pengganti Allah…?”) benar adanya, walaupun hal itu juga defensif. Namun tetap akhirnya Allah memberkati Rahel dengan seorang anak melalui budak perempuannya Bilha. Nama Dan adalah sebagai peringatan atas kenyataan bahwasanya Allah “membenarkan” Rahel, artinya, Dia memutuskan bahwa Rahel didapati benar dalam kasus ini. Dengan perkataan lain, Allah mengakui bahwa Rahel pantas memiliki anak sehingga Dia memberkati kesatuan Yakub dan Bilha untuk mengaruniakan Rahel anak-anak yang layak dia terima.

Kelahiran Samuel juga mengilustrasikan maksud ini (1 Sam. 1). Hana mandul yang lantas membuatnya cemas dan berduka. Sebagaimana suami Rahel, Yakub, suami Hana, Elkana juga tidaklah terlalu bersimpati – para pria biasanya gagal memahami betapa pentingnya anak-anak bagi istri mereka. Tapi kemudian, meresponi kesetiaan Hanna, Tuhan akhirnya mengaruniakan seorang anak kepadanya, nabi Samuel. Dua hal patut untuk dicatat dalam perikop ini. Pertama, kerinduan dan permohonan Hana adalah benar adanya. Dia seorang wanita saleh yang menjadi model bagi kaum ibu. Sesungguhnya, doa terima kasihnya atas kelahiran Samuel (1 Sam. 2) kemungkinan besar menjadi model yang mendasari Nyanyian Pujian Maria (Luke 1:46-55). Benar – Maria, perempuan yang paling diberkati (dan yang terjadi melalui día melahirkan!), mengikuti teladan Hana. Kedua, Tuhan mengakui kebenaran kasus Hana. Kita menemukannya dalam 1 Samuel 1:19, dimana Allah “mengingat” Hana dan memberikannya seorang anak. Dalam Firman, mengingat adalah sebuah tindakan dari perkenan Allah. Ketika Dia mengingat seseorang, Dia memandangnya dengan bersuka, biasanya karena dia telah terbukti setia terhadapNya. Ini mirip seperti Allah membenarkan Rahel.

Sekarang dalam semuanya ini, saya belum membicarakan tentang kemungkinan seorang pria yang tidak mau memiliki anak yang disebabkan oleh alasan-alasan egois. Menyadari namun melepaskan berkat Allah demi kepentingan kerajaanNya memang suatu hal yang benar, namun menolak berkat Allah untuk alasan yang egois dan ketakutan adalah berdosa (Kej. 25:34 dengan Ibr. 12:16; Bil. 13—14). Seorang pria yang tidak menghargai berkat Allah dan tidak menginginkan untuk memberkati istrinya bukanlah jenis pria yang pantas dipilih oleh wanita saleh untuk dinikahi.

Ini bukanlah hal sepele; perihal anak dalam pernikahan adalah hal yang besar. Elkana berpikir dia seharusnya lebih berharga bagi Hana dibandingkan sepuluh anak laki-laki. Tapi jelas dia salah. Bukan hanya dia tidak sebanding dengan nilai sepuluh anak laki-laki, dia bahkan tidak cukup berharga untuk menggantikan satu anak laki-laki. Tanpa anak, Hana merasa gundah gulana – dan memang demikianlah seharusnya, sesuai dengan cara Alkitab membagikan kisah ini. Namun kemudian rasa malunya disingkirkan, dan kedukaannya berubah menjadi sukacita dengan kelahiran anaknya. Ya, beberap orang cukup senang tanpa anak, dan mungkin hal ini mudah untuk dipenuhi dalam kebudayaan kita karena kita dikelilingi dengan begitu banyak gangguan lainnya. Namun standar nilai yang kita temukan di Alkitab adalah bagaimana anak-anak pantas dirindukan, dan bahwa kesedihan wanita yang putus asa karena tidak memiliki anak dapat dibenarkan.

Saya tidak mengajarkan anda untuk tidak mengasihi pria ini atau untuk tidak menikahinya. Saya hanyalah mengatakan bahwa untuk tidak memilki anak adalah sebuah pengorbanan besar. Pengorbanan ini bisa membawa kebaikan yang luar biasa jika dilakukan demi gereja dan demikian pula hal ini dapat menjadi hal yang bijaksana dalam kondisi-kondisi tertentu. Namun ketika kita menjauhkan diri dari berkat Allah oleh karena alasan-alasan berdosa, bukan hanya kita tidak menyenangkan Tuhan, kita juga sedang menuntun diri kita sendiri menuju kegagalan dan ketidakbahagiaan. Jika pria ini adalah seorang percaya yang taat, dan pandangannya lebih condong berdosa ketimbang benar, mungkin cara yang terbaik adalah membicarakan doktrin alkitabiah tentang anak dan membesarkan anak, dan juga tentang berharganya anak-anak bagi anda, sekaligus membujuk dia untuk menundukkan keinginan dan kerinduannya kepada Allah dalam hal ini.

Jawaban oleh Ra McLaughlin

Ra McLaughlin is Vice President of Finance and Administration at Third Millennium Ministries.