Bagaimanakah tanggapan seorang Kristen terhadap pasangannya yang tidak tertarik akan seks?

Pertanyaan

Bagaimanakah tanggapan seorang Kristen terhadap pasangannya yang tidak tertarik akan seks?

Jawaban

Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat rumit dengan beberapa hal berbeda yang mungkin ditanggapi, sehingga saya hanya akan memberikan komentar secara umum.

Sebagaimana yang kebanyakan orang sadari, seorang suami dan istri tidak seharusnya saling “menipu” kecuali dengan persetujuan bersama (1 Kor. 7:5). Alkitab Bahasa Inggris versi King James menggunakan kata “defraud” (menipu) dan inilah yang saya gunakan di sini karena kata tersebut memberikan sebuah pengertian yang menarik: ada pencurian yang sedang terjadi. Namun, pertanyaan anda bukanlah perihal apakah hal ini salah atau tidak namun apa yang harus dilakukan untuk menanggapi hal tersebut.

Pertama, jangan ada yang langsung mengambil kesimpulan tentang mengapa hal ini sampai terjadi. Ketidak-tertarikan akan seks mungkin saja adalah akibat dari beberapa hal yang terjadi dalam hidup seseorang. Mungkin saja ada pergumulan emosional dengan kekerasan yang terjadi di masa lalu. Bisa jadi saat ini sedang bermasalah dalam relasi dengan Allah. Mungkin juga ada kondisi kekurangan medis yang mengakibatkan kurangnya gairah. Melahirkan anak, terlebih ketika pemulihan berlarut-larut oleh karena depresi pasca melahirkan dapat juga menghambat gairah wanita. Beragam resep obat dapat memberikan pengaruh buruk atas dorongan seksual baik bagi pria maupun wanita. Mungkin juga ada masalah-masalah yang belum terselesaikan dalam pernikahan (Ef. 4:6). Atau, seperti yang biasanya sering muncul dalam benak setiap orang, bisa jadi ada pria atau wanita lain. Namun tetaplah hal yang terbaik untuk tidak langsung mengambil keputusan (Rom. 12:1-2; Ibr. 12:1-4; Fil. 4:4-9; bdg. Ams. 3:5; 4:23).

Saat menghadapi situasi seperti ini, doa dan Firman Allah amatlah penting. Sama halnya bernafas untuk keberlangsungan hidup kita sebagai manusia, demikian pula doa bagi kuasa hidup seorang Kristen dalam keberadaannya saat ini (Maz. 66:19-20; 69:3; 102:1; 1 Tes. 5:17). Persekutuan pribadi dengan Allah sangatlah penting. Hal ini adalah bagian dari senjata perlengkapan Allah dalam Efesus 6:10-18, dan tidak mungkin kita mampu berdiri tegak menghadapi semua pencobaan tanpanya. Lagipula, Firman Allah memberikan kita hikmat untuk berlaku bijak (Ams. 3:1, 3, 5; 4:21; 10:8; 12:8; 15:28; 16:9, 23; 18:5; 19:21). Saat seseorang juga mencari nasehat yang ilahi (Maz 16:7; 11:14; 12:15; 15:22; 19:20-21; 20:5), keputusan harus diambil, dan persekutuan dengan Allah akan menolong dalam proses pengambilan keputusan seperti ini. Allah bisa mengajarkan banyak hal sepanjang menghadapi ujian seperti ini, salah satunya adalah untuk tidak membiarkan ujian ini berubah menjadi godaan (1 Kor. 7:5).

Terakhir, saya menyarankan untuk mencari nasehat dari “seorang” gembala dengan kemampuan konseling, dengan tetap mengingat bahwa tidak semua gembala memiliki karunia dalam hal ini. “Seorang” gembala bisa saja bukanlah gembala “anda”. Kita harus tunduk kepada “seorang” gembala, namun seorang gembala yang mengasihi dan berhikmat harus mengetahui kemampuan dan karunia yang dia miliki, atau yang tidak dia miliki (1 Kor. 12:4-6). Mungkin saja lebih baik pergi “keluar kota” agar menjauhi telinga-telinga yang gatal untuk membicarakan situasi-situasi seperti ini. Apapun itu, yang penting untuk dilakukan adalah dapat membagikan dan mendiskusikan situasi ini dengan seseorang yang berkompetensi untuk konseling dan yang bersedia mendengarkan serta mampu memberikan nasehat yang alkitabiah.

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).