Apakah Pesta Pernikahan Alkitabiah?

Pertanyaan

Yesus tidak pernah memimpin/meresmikan perayaan pernikahan. Apakah pesta pernikahan alkitabiah?

Jawaban

Mari kita mulai dengan mempertimbangkan Allah yang meresmikan pernikahan pertama.

Sekalipun hanya ada satu Allah (Ul. 6:4), terdapat tiga pribadi. Dalam konteks ini, bahkan kata “satu” dalam Ulangan 6:4 pun berarti satu, sebagaimana layaknya serenceng anggur. Bentuk jamak Allah (Elohim) digunakan untuk merujuk kepada Sang Pencipta dalam Kejadian 1:1 dan di sepanjang kisah selanjutnya. Jadi, hal ini konsisten dengan doktrin Tritunggal. Kejadian 1:26 menyatakan, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Bentuk jamak dari kata “kita” dan milik “kita” di sini merujuk kepada Allah. Perihal Yesus Paulus menuliskan, “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.” (Kol. 1:16-17).

Keseluruhan Trinitas yang mengikut-sertakan pribadi ke dua, Sang Anak, hadir pada saat penciptaan (bdg. Kej. 1:1-2; Maz. 33:6,9; Yoh. 1:1-3; Ef.. 3:9, dll.). Dan pada penciptaan saat perempuan, yang kemudian diberi nama Hawa (Kej. 3:20), diciptakan, dibawa kepada dan dipersatukan dengan Adam sebagai istrinya (Kej. 2:22-25), Anak Allah juga hadir. Yesus bukan hanya meresmikan perayaan pernikahan yang pertama ini, namun Dialah yang sesungguhnya memjadikan semua perayaan pernikahan di Alkitab dapat mungkin terjadi (bdg. Kej. 2:18).

Mujizat Yesus pertama yang mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2:3, 6-11) dilakukan pada pesta pernikahan (Yoh. 2:1-2), dan Dia memasukkan pesta pernikahan sebagai ilustrasi dari beberapa perumpamaanNya (Mat. 22:1-14; 25:1-13; Lukas 12:35-40; 14:7-11). Paulus menggambarkan Yesus sebagai suami dari mempelai perempuanNya (Ef. 5:23-24, 25-30, 31-33). Kita membaca tentang perjamuan pernikahan Anak Domba (Yesus) di kitab Wahyu 19:6-10, dan pesta pernikahan digambarkan atau disinggung dalam kitab lainnya di Alkitab (Kej. 29:21-30; Maz. 45:10-15; Kidung Agung 3:11-11, bdg. Maleaki 2:14-15; Yesaya 54:5; Markus 10:9, dll.). Dan secara historis gereja telah merayakan banyak momen pesta pernikahan agung. Jadi ya, pesta pernikahan itu alkitabiah.

Sebaliknya, umat percaya tidak boleh menikahi orang tidak percaya (bdg. 2 Kor. 6:14) dan pernikahan perjanjian memerlukan sebuah wujud khusus dari kesatuan di hadalan Allah, mis., satu laki-laki dan satu perempuan (Kej. 2:24). Jadi, tidak semua pernikahan, dan oleh karenanya tidak semua pesta pernikahan, adalah alkitabiah. Abraham Lincoln pernah mengajukan pertanyaan ini, “Jika anda menyebut ekor anjing sebagai kaki, berapa kaki yang dimiliki seekor anjing?” Semua pendengarnya dengan satu suara menjawab “Lima.” Dengan sopan dia menanggapi, “Bukan, jawaban yang benar adalah empat. Menyebut ekor sebagai kaki tidaklah menjadikannya kaki.” [1] Jadi secara khusus, sekalipun ada hal yang mungkin dianggap sebagai pesta pernikahan dan bahkan diresmikan oleh semacam pendeta, pesta pernikahan yang bukan antara satu laki-laki dan satu perempuan tidaklah alkitabiah.

Referensi

[1] Kutipan di atas adalah sebagaimana yang saya dengar pada awalnya. Ada beberapa versi berbeda, sebagian menggunakan anak lembu, kuda, babi dan bahkan domba sebagai contoh. Untuk satu versi, silakan baca: Rice, Allen Thorndike, Editor. Reminiscences of Abraham Lincoln by Distinguished Men of His Time. Kessinger Publishing, LLC (2005).

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).