Ilah Teisme Terbuka yang Selalu Menebak

Pertanyaan

Apakah Teisme Terbuka alkitabiah?

Jawaban

Teisme Terbuka adalah penyembahan berhala yang merupakan doktrin palsu. Ini bidat. Doktrin Teisme Terbuka (Keterbukaan, Pandangan yang Terbuka) termasuk doktrin berbahaya yaitu Allah tidaklah maha-tahu (omniscient). Dia hanyalah “ilah yang menebak,” ilah dari “hal-hal yang mungkin tapi tidak pasti,” bak dewa yang hanya mampu melakukan yang terbaik dengan informasi yang dia miliki pada saat yang dimaksud. Dalam menjabarkan kebebasan libertarianisme manusia dan ilahnya, Clark H. Pinnock berkata:

Keputusan yang belum diambil sama sekali tidak berada dimanapun untuk dapat diketahui bahkan oleh Allah. Keputusan-keputusan ini hanyalah potensial - baru akan direalisasikan tapi bukan aktual. Allah dapat memprediksi sebagian besar dari apa yang akan kita pilih untuk lakukan, namun bukan semuanya, karena sebagian dari keputusan tersebut tersembunyi dalam misteri kebebasan manusia… Allah di Alkitab menunjukkan suatu keterbukaan bagi masa depan (mis. tidak mau tahu akan masa depan) yang sama sekali tidak dapat diakomodasi oleh pandangan tradisional tentang Allah yang maha-tahu.

Berarti, pada dasarnya, teisme terbuka (TT) menegaskan bahwa karena manusia memiliki kehendak bebas, maka Allah tidak tahu dan tidak dapat mengetahui masa depan sepenuhnya. Allah harus menebak tindakan(-tindakan) yang dia rasa akan diambil oleh manusia untuk kemudian bertindak sesuai dengan tebakan tersebut. Oleh karenanya, ilah TT selalu berubah - ilah yang secara terpaksa bereaksi sesuai dan tergantung pada pilihan ciptaannya. Namun ini bukanlah Allah seluruh ciptaan. Ini bukan Allah dari sejarah yang menebus. Ini bukanlah Allah yang disingkapkan dalam Alkitab. Firman mencatat:

Ingatlah hal itu dan jadilah malu, pertimbangkanlah dalam hati, hai orang-orang pemberontak! Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan, yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya. Dengarkanlah Aku hai orang-orang yang congkak, orang-orang yang jauh dari kebenaran: Keselamatan yang dari pada-Ku tidak jauh lagi, sebab Aku telah mendekatkannya dan kelepasan yang Kuberikan tidak bertangguh lagi; Aku akan memberikan kelepasan di Sion dan keagungan-Ku kepada Israel.

Para pemberontak dari kaum teisme terbuka menyodorkan sebuah doktrin yang amat sangat berbahaya. Karena kita tidak mungkin membahas semua kesalahan dalam pengajaran mereka dengan ruang yang terbatas ini, mari kita pelajari dengan singkat bagaimana doktrin ini memengaruhi beberapa atribut Allah lainnya.

Apa saja atribut Allah? Allah itu:

Kekal
Setia
Pra-tahu
Baik
Suci
Tidak dapat berubah (immutable)
Tidak berpihak (impartial)
Tidak dapat dipahami (incomprehensible)
Tak terhingga
Cemburu
Adil (Keadilan)
Panjang sabar
Kasih
Berbelas kasihan
Maha kuasa (Omnipotent)
Maha hadir (Omnipresent)
Maha tahu (Omniscient)
Benar
Ada dengan sendirinya (self-existent)
Cukup dalam dirinya (self-sufficient)
Berdaulat
Melampaui semuanya (transcendent)
Kebenaran
Bijaksana
Penuh murka

Salah satu atribut Allah dari daftar di atas adalah bahwa Allah maha tahu (omniscient). Allah tahu segala sesuatunya, yang sepanjang pengetahuan kita disangkal oleh TT! Namun Firman mencatat, “Besar Tuhan kita dan berlimpah dalam kuasa, pengertian-Nya tidak terbilang” (Maz. 147:5). Penting untuk memahami doktrin ini. A. W. Pink menyatakan:

Allah bukan hanya mengetahui apapun yang telah terjadi di masa lampau dalam setiap bagian dari jangkauanNya yang luas, dan Dia bukan hanya seutuhnya akrab dengan segala sesuatu yang pada saat ini sedang melintasi sepanjang jagat raya, namun Dia juga sadar sepenuhnya akan setiap peristiwa mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar yang akan pernah terjadi di masa depan! Pengetahuan Allah akan masa depan adalah selengkap pengetahuanNya akan masa lampau dan masa kini; dan hal ini dikarenakan masa depan sepenuhnya bergantung akan diriNya. Jika sekiranya ada secuil kemungkinan sesuatu dapat terjadi terlepas dari baik langsung oleh Allah ataupun seijinNya, maka hal seperti itu pastilah tidak bergantung atasNya yang berarti Allah seketika itu juga tidak lagi menjadi Yang Tertinggi.

Allah maha tahu. Namun memangnya kenapa kalau kita menyangkal kebenaran hakiki ini? Apa yang dipertaruhkan? Sekalipun TT akan berargumentasi sebaliknya, jika seseorang menyangkal kemaha-tahuan Allah, maka seharusnyalah mereka juga membatasi atribut Allah lainnya. Jika Allah tidak tahu pilihan umatNya sebelumnya, maka Dia harus tunduk pada jutaan kemungkinan di setiap saat. Berarti paling banter ya Dia sekadar menjadi dewa yang menebak-nebak. Misalnya, bagaimana mungkin Allah dapat menjadi maha kuasa dan menunjukkan kuasanya - yaitu, kuasa sepantasnya dan pada saat yang tepat - untuk setiap situasi jika día tidak maha tahu? Bagaimana mungkin día membinasakan dunia pada jaman Nuh jika día tidak mengetahui pemikiran dan maksud hati manusia? (Kej. 6:5). Karena pada akhirnya, menurut TT, seseorang bisa saja sudah sangat mendekati pertobatan total dan tetap Allah tidak akan tahu. Berarti, TT menimpakan kemungkinan dosa kepada Allah! Jelas gambaran ilah yang mereka lukis memiliki kemungkinan kekurangan kesabaran, kasih, keadilan, belas kasihan, kebenaran (truth), kebaikan, kebenaran (righteousness), kekudusan, hikmat, penerapan murka ilahi yang pantas, dll. Berarti ilah mereka memang harus membuat “tebakan terbaik” atas apa yang manusia mungkin kerjakan untuk lantas bereaksi dengan atribut(-atribut)nya, kapan menunjukkan atribut-atribut terkait, dan berapa besar dari atribut tersebut yang akan digunakan. Penebak Terbaik = Allah?

Terlebih lagi, Yesus dalam TT juga jauh berbeda dari Yesus di Alkitab. Jika Allah tidak tahu bahwa umat manusia yang jahat akan jatuh dalam Adam (Kej. 3; Rom. 3:23; 5:12-19), mengapa Dia harus menyediakan Yesus sebagai anak domba sembelihan sebelum dunia dijadikan (Wah. 13:8)? Mari kita simak yang disampaikan Lukas:

Kis 2:22-24 Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.

Kis 4:27-28 Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.

Namun menurut TT, Allah tidak mungkin dapat pra-tahu (tahu akan hal-hal ini sebelumnya). Terlebih lagi, karena ilah mereka tidak para-tahu, maka seharusnyalah mereka tidak setuju dengan Paulus yang berkata, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Rom. 8:29-30; bdg. Ef. 1:4, 11, etc.). Mereka juga pasti harus tidak setuju dengan Petrus yang berkata:

1 Petrus 1:18-21 Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.

Dan berbicara tentang Petrus, bagaimana dengan penyangkalannya akan Kristus sebelum penyaliban? (Markus 14:66-68; Yoh. 18:15-18; Mat. 26:71-75). Bagaimana mungkin Yesus tahu dimana Petrus akan berada malam itu? Bisa saja día melarikan diri bersama dengan murid lainnya. Bagaimana Yesus tahu bahwa seseorang akan mengkonfrontasi Petrus? Bagaimana día tahu bahwa Petrus akan benar-benar menyangkalnya - lebih dari sekali? Bagaimana día tahu tiga kali dan bukan tujuh puluh kali tujuh kali? Bagaimana día tahu bahwa waktunya adalah sebelum ayam jantan berkokok? Apakah Juru Slamat kita hanya sekadar seorang Penebak Perkasa atau Allah Perkasa?

TT juga harus secara esensi tidak setuju dengan Yesus yang berkata, “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman (Yoh 6:39; 18:19). Namun karena manusia katanya punya kehendak bebas, bagaimana mungkin Allah Bapa dan Yesus mengetahui hal ini? TT menyembah Yesus yang berbeda dari Yesus di Alkitab, yaitu Yesus yang bahkan mampu berbuat kesalahan.

Allah dengan berdaulat memerintah semua peristiwa atas anakNya Yesus di atas Salib. Kematian Kristus tidak mengagetkan Allah (Kis 2:22-24; 4:27-28). Dia bahkan memberitahu nabi-nabiNya tentang kematian AnakNya sebelumnya (Maz. 22; Yes. 53; bdg. Ul. 18:22). Dia merancangnya dalam kekekalan (1 Pet. 1:18-22). Jika orang berdosa melakukan apa yang ingin mereka lakukan, maka mereka sudah membunuh Yesus lebih awal - namun waktuNya belum tiba (Mat. 26:18; Yoh. 17:6; Gal. 4:4). Anak Allah harus mati di atas kayu Salib di Kalvari sesuai rencana dan tujuan kekekalan Allah (Yes. 53; Ef. 1:4, 11).

Namun, sekalipun dunia yang telah jatuh ini diawasi, tetap orang Yahudi, bukan Yahudi, Pilatus dan prajurit Romawi melakukan apa yang diinginkan oleh hati mereka yang jahat (Kis 13:28-29) - mereka berdusta tentang Yesus karena mereka ingin berdusta tentang Dia; mereka lucuti pakaianNya karena mereka ingin melucutiNya; mereka memukul Dia karena mereka ingin memukulNya; mereka mengolok-olok Dia karena mereka ingin mengolok-olokNya; mereka meludahi wajahNya karena mereka ingin meludahi wajahNya; mereka menyalibkan Dia karena mereka ingin menyalibkanNya; mereka menyaksikan Dia mati karena mereka ingin menyaksikan Dia mati. NAMUN Allah tetap memegang kendali penuh sepanjang waktu. Firman menunjukkan kita bahwa Allah dengan berdaulat memerintah tindakan jahat manusia; mereka melakukan tepat seperti apa yang telah Dia tetapkan sejak mulanya (Luk 22:22; Kis 2:22-24; 4:27-28; 13:28-29). Yesus bisa saja memanggil lebih dari dua belas pasukan malaikat (Mat. 26:53), namun justru dengan rela Dia menyerahkan nyawaNya yang tidak berdosa (Yoh 10:11, 17-18). Allah Bapa dan Allah Anak memutuskan dengan berdaulat (Lukas 18:31) bahwa Kristus akan mati (1 Pet. 1:18-21), untuk siapa Dia akan mati (Mk. 10:45; Rom. 8:29-30; Ef. 1:4, 11), kapan Dia akan mati (Gal. 4:4), dan cara kematianNya (Maz. 22; Yes. 53). Ini jelas bukan ilah TT yang selamanya hanya mampu menebak-nebak, ilah yang dikuasi oleh dan tergantung pada pilihan ciptaannya!!!

Allah seluruh ciptaan dan penebusan sangat jauh berbeda dari ilah TT. Allah mengerjakan segala sesuatu dalam keputusan kehendak-Nya (Ef. 1:11; bdg. Rat. 3:37-38; Rom. 2:28; 11:33-36). Allah tidak dapat gagal dalam apapun yang Dia akan lakukan (Maz. 33:11; 115:3; 135:6; Ams. 21:30; Yes. 14:27; 43:13; 46:10, 55:11, Dan. 4:35; Wah. 3:7). Allah itu adil, Dia kudus, Dia mengasihi. Jauh dari sosok Allah yang sepertinya “beresiko” membuat kesalahan karena pengetahuannya yang terbatas. Dia berdaulat dan oleh sebab itu, memang seharusnya pulalah maha tahu (omniscient).

Referensi

(Pinnock, Clark H. "From Augustine to Arminius: A Pilgrimage in Theology" in Grace of God and the Will of Man. Minneapolis, MN: Bethany House Publishers, 1995.

Pink, A.W. The Attributes of God. Grand Rapids, MI: Baker Publishing Group, 1975.

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).