Tidak Mematuhi Otoritas Pemerintah

Pertanyaan

Para bidan (Kel. 1:17) tidak mematuhi perintah Firaun (Rom. 13:1) dan berdusta di dalam prosesnya (Ams. 12:22). Bagaimana mungkin Allah memberkati para bidan (Kel. 1:21) karena tidak mematuhi Firaun?

Jawaban

Keluaran 1:15-21 Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: "Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup." Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup. Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka: "Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?" Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: "Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin." Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda. Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga.

Amsal 12:22 Bibir dusta adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi mereka yang berlaku setia adalah kesenangan-Nya.

Roma 13:1 Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.

Jelas para bidan tidak mematuhi perintah Firaun! Mereka berdusta. Apakah hal ini sebuah pelanggaran akan Firman?

Pertama, sebagai orang Kristen, kita harus menaati otoritas pemerintah sebagai norma yang umum (Rom. 13:1-6; Tit. 3:1-2; 1 Pet. 2:12-23). Misalnya, kita harus selalu menyampaikan kebenaran di pengadilan (Ams. 19:9; 6:16-19). Pemerintahan manusia menerima otoritas yang didelegasikan dari Allah (Dan. 2:21; 4:17; Yoh. 19:11). Namun, hal tersebut berasumsi bahwa otoritas yang didegasikan itu akan digunakan untuk kebaikan - bukan kejahatan. Ketika pemerintah melakukan kejahatan, maka mereka tidak bertindak di bawah otoritas Allah yang didelegasikan. Oleh karenanya, seorang Kristen sama sekali tidak boleh membunuh, memerkosa, atau melanggar perintah-perintah Allah lainnya saat menerima perintah dari pemerintah yang jahat.

Bahkan Kode Umum Keadilan Militer (Uniform Code of Military Justice - UCMJ) dengan jelas menegaskan bahwa personel militer hanya perlu menaati (1) perintah yang sah (lawful) dari atasan langsung (809. ART. 90 (2)), (2) perintah sah (lawful) dari petugas yang menerima surat perintah, petugas yang tidak ditugaskan, atau petugas rendahan (891. ART. 91 (2)), atau (3) perintah umum atau regulasi yang sah (lawful) (892.ART.92 (1)), dll. Berarti, semua anggota militer memiliki tugas moral dan konstitusional untuk hanya menaati perintah yang sah namun juga kewajiban moral dan konstitusional untuk tidak menaati perintah yang melawan hukum (unlawful). Kewajiban moral dan legal mereka merujuk kepada Konstitusi Amerika Serikat dan bukan kepada mereka yang akan mengeluarkan perintah yang melawan hukum.

Dalam Kisah Rasul 5, kita mendapatkan gambaran yang jelas akan apa yang Paulus maksudkan di Roma 13:1 mengenai tunduk yang patut:

Kis. 5:25-29 Tetapi datanglah seorang mendapatkan mereka dengan kabar: "Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak." Maka pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil kedua rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka. Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya: "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami." Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.”

Jelas hukum Allah dianggap melampaui otoritas yang didelegasikan kepada manusia. Inilah prinsip umum yang harus kita ikuti ketika mengambil keputusan etis seperti ini. Kita harus mengikuti hukum yang lebih tinggi (Mat. 10:37; Kis. 16:19-28); sama seperti anggota militer yang harus menaati Konstitusi melampaui perintah yang melanggar hukum dari sang atasan (contoh di atas). Para bidan dibenarkan saat menaati hukum Allah dengan tidak membunuh Musa (Kel. 1:17). Ketidaktaatan mereka terhadap Firaun memegang peran sangat penting dalam menyelamatkan hidup yang tidak bersalah. Perhatikan ada banyak kejadian dusta disampaikan dalam Firman untuk memelihara hidup (Yos. 2:1-24, Ibr. 11:31: Yak. 2:25; Yos. 8:3-8; Hak. 4:18-21; 5:24-27; 1 Sam. 16:1-5; 19:12-17; 20:6; 21:13; 27:10; 2 Sam. 5:22-25; 15:34; 17:19-20; 2 Raj. 16:14-20; Yer. 38:24-28). Allah juga mengirimkan delusi yang kuat (bukan dusta) sehingga sebagian tidak akan memercayai kebenaran (2 Tes 2:11; bdg. 1 Raj. 22:19-23).

Sebagai norma umum, orang Kristen tidak boleh berdusta. Namun, Keluaran 20:16 menulis, "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. " (bdg. Kel. 20:17). Sesama yang sejati tentu tidak akan menyuruh kita membunuh, memerkosa, dll.! Semua itu adalah perintah seorang musuh - sang Musuh (Yoh. 10:10). Orang Kristen memang harus (1) selalu berdoa bagi musuh dan otoritas pemerintahan mereka (Mat. 5:44; Luk. 6:28; 1 Tim. 2:1-4), (2) menolong musuh mereka dalam situasi tertentu (Orang Samaria yang Baik Hati - Lukas 10:25-37), dan (3) bahkan menaati musuh mereka (Rom. 13:1), ada kalanya kita harus berdusta kepada mereka saat mereka memerintahkan kita untuk berbuat jahat (bdg. Rahab si Pelacur; Yos. 2:1-6; Ibr. 11:31). Jika ada gerombolan bersenjata masuk ke rumah anda untuk memerkosa putrimu yang bersembunyi dalam lemari, apakah anda akan memberitahukan mereka dimana dia berada, atau anda akan melindungi keluargamu? Sebagai bekas detektif polisi jawaban saya adalah pastikan anda siap dengan jawaban yang meyakinkan yang memuliakan Allah; berdustalah demi melindungi keluargamu dari musuh!

Para bidan diberkati karena mereka takut akan Allah (Kel. 1:21). Takut akan Allahlah yang memimpin mereka untuk menyeimbangkan secara benar perintah-perintah Alkitab, dan untuk itu mereka diberi upah yang sepatutnya.

Keputusan etis seperti ini sulit untuk diambil. Allah mengharapkan orang Kristen dapat menyeimbangkan secara tetap apa yang benar dan apa yang salah, untuk tidak menarik kejadian keluar dari konteks yang seharusnya, atau menggunakan alasan yang palsu untuk berdusta dan/atau tidak mematuhi otoritas yang didelegasikan. Dalam pengalaman saya, saya telah menyaksikan mereka yang membenarkan apapun, bahkan pembunuhan hanya untuk sikat rambuh seharga 69 sen (benar-benar hanya senilai itu). Ingat, Allah adalah Hakim terakhir. Melangkahlah dengan seksama, karena Dia tahu hatimu (Kis. 15:8). Allah menimbang hati kita, tahu rahasia kita, dan memahami pemikiran kita (Mz. 17:3; 44:21; 139:1-4). Allah menguji hati kita dan memberi upah dan/atau hukum yang setimpal (Yer. 17:9-10). Jadi, kita butuh anugerah dan hikmat untuk memurnikan hati kita di hadapanNya (Mat. 5:8; Yak. 4:8).

Topik Terkait:
Haruskah Kita Selalu Menyampaikan Kebenaran?
Mengapa Elisa Berdusta?
Apakah Allah meminta Samuel Berdusta - 1 Samuel 16:1-5

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).