Haruskah Kita Selalu Menyampaikan Kebenaran?

Pertanyaan

Haruskah kita selalu menyampaikan kebenaran?

Jawaban

Hukum Taurat yang ketiga dan kesembilan, secara khusus, menegaskan kebenaran kepada kita, sebagaimana yang disampaikan banyak ajaran lain di Alkitab. Allah adalah Allah kebenaran. Dia tidak berdusta (Tit 1:2, Ibr 6:17-18, Bil 23:19). Dia ingin kita mengikuti telandanNya dalam hal ini layaknya dalam hal-hal lainnya. Perhatikan polemik alkitabiah terhadap dusta dalam bagian-bagian seperti Mz 31:18; 63:11; 101:7, 119:29, 163, Ams 6:17; 12:22; 19:5, 9 Zak 8:16, Ef 4:25, 1 Yoh 2:21, Wah 21:27; 22:15. Setan adalah bapa segala dusta, Yohanes 8:44, dan pendosa didominasi oleh dusta, Rom 1:25; 3:8-18; 2 Kor 4:2-4, 2 Tes 2:9-12. Firman mengutuk nabi palsu yang menyampaikan dusta tentang Allah, Ul 13:1-18.

Namun ada beberapa bagian Firman dimana orang dapat menyesatkan yang lain tanpa melibatkan kutukan alkitabiah. Coba perhatikan:

1. Kel 1:15-21, para bidan Israel di Mesir.

2. Yos 2:4-6; 6:17, 25 Ibr 11:31, Yakobus 2:25, Dusta Rahab. Perhatikan bahwa terlepas dari apa yang Rahab sampaikan kepada kaumnya, bahkan menyembunyikan mata-matapun dianggap sebagai penipuan.

3. Yos 8:3-8, penyergapan terhadap Ai. Sebagaimana yang John Murray akui, Allah sendiri mengotorisasi penipuan tersebut.

4. Hak 4:18-21; 5:24-27; Yael and Sisera.

5. 1 Sam 16:1-5, Samuel menyesatkan Saul tentang alasan misinya.

6. 1 Sam 19:12-17, Mikhal menipu tentara ayahnya.

7. 1 Sam 20:6, nasehat Daud kepada Yonatan.

8. 1 Sam 21:13, Daud berpura-pura gila.

9. 1 Sam 27:10, Daud berdusta kepada Akhis.

10. 2 Sam 5:22-25, terjadi lagi penipuan militer.

11. 2 Sam 15:34, Husai menyarankan dusta kepada Absalom.

12. 2 Sam 17:19-20, perempuan menipu pengikut Absalom.

13. 1 Raj 22:19-23, Allah mengutus roh pendusta untuk melawan Ahab.

14. 2 Raj 16:14-20, Elisa menyesatkan pasukan Siria.

15. Yer 38:24-28, Yeremia berdusta kepada para pemimpin.

16. Luk 24:28, Yesus bertindak seolah-olah akan melanjutkan perjalanan.

17. 2 Tes 2:11, Allah mendatangkan kesetanan sehingga para musuh percaya akan dusta.

Namun, pandangan yang mendominasi di kalangan Kristen Reformed adalah kita tidak boleh berdusta dalam keadaan apapun. Pandangan ini dipegang oleh Agustinus dan baru-baru ini dipertahankan oleh John Murray dalam Prinsip-prinsip Bertindak (Principles of Conduct.)

Murray menjelaskan ayat-ayat di atas dengan prinsip berikut: (1) Di beberapa ayat, misalnya #2, Firman memuji apa yang dicapai oleh pendusta tanpa memuji dusta mereka. (2) Seperti dalam #5, merupakan hal yang sah untuk menyimpan kebenaran seutuhnya dari orang lain, sepanjang tidak memutar-balikkan. (3) Seperti dalam #3, kita tidak perlu selalu bertindak dengan cara-cara yang sesuai interpretasi salah dari tindakan kita yang dilakukan oleh orang lain (dalam hal ini, penduduk kota Ai).

Penjelasan pertama tidak cukup tentang perihal Rahab, karena apa yang dipuji oleh Alkitab adalah tindakan penutupannya, bagaimana dia menciptakan kesan yang salah di benak para petugas Yeriko.

Untuk prinsip yang kedua, kita dapat akui bahwa ada kalanya memang benar untuk menyimpan kebenaran. Namun pertanyaannya adalah apakah pernah benar untuk menyimpan kebenaran ketika menyimpannya akan sepantasnya diharapkan dapat menciptakan kesan yang salah di benak orang lain. Jika ya, sebagaimana yang terjadi di 1 Sam 16:1-5 dan bagian lain di daftar kita, maka tentu ini akan sulit dibedakan dengan berdusta.

Dan prinsip ketiga bergantung pada perbedaan yang tajam di antara kata-kata yang menyesatkan dan tindakan yang menyesatkan. Murray berkata bahwa sesungguhnya kita tidak pernah boleh menyesatkan dengan kata-kata kita, namun boleh menyesatkan dengan tindak-tanduk kita. Perbedaan seperti ini tidaklah kuat.

Dan tidak satupun dari penjelasan ini yang membantu kita untuk memahami mengapa Allah sendiri menipu manusia seperti pada bagian #13 dan #17.

Charles Hodge berkata bahwa kita wajib memberitakan kebenaran hanya saat ada “janji yang tersampaikan.” Secara esensi, Hodge menempatkan beban bukti bagi mereka yang membutuhkan kebenaran. Namun tidak jelas apa yang itu janji yang tersampaikan, atau apa kriteria yang menyimpulkan ada janji yang sudah atau belum dibuat.

Meredith Kline menjelaskan contoh alkitabiah dari penipuan sebagai “intrusi” (gangguan). Menurut pandangannya, etika pada akhir jaman berbeda dengan etika yang Allah berikan pada kita dalam taurat dan pengajaran Yesus. Dalam kondisi normal, kita harus mengasihi musuh kita dan melindungi mereka. Namun di akhir jaman, musuh Allah tidak akan memiliki hak untuk hidup atau hak untuk kebenaran. Ada kalanya, menurut Kline, akhir jaman masuk ke dalam masa kita saat ini (jadinya “mengintrusi”). Intrusi adalah waktu penghakiman ilahi, dan di dalam masa ini, sah untuk membunuh musuh Allah (seperti yang dilakukan Yosua dan Daud) termasuk menyimpan kebenaran dari mereka.

Namun Alkitab tidak membedakan kedua etika yang berbeda ini. Beberapa perintah Allah (seperti perintahNya pada Yosua untuk membunuh bangsa Kanaan) adalah untuk kondisi sementara. Dan Kline benar saat mengatakan bahwa sering situasi tersebut adalah kondisi bagi penghakiman ilahi yang khusus. Tapi hukuman mati dan perang yang adil juga adalah perihal etika normatif yang biasa. Ada kalanya bahkan mendahului penghakiman akhir nantinya ketika yang jahat pantas kehilangan nyawanya. Mungkin bahkan “hukuman mati normal” seperti ini dapat diasimilasikan sebagai model intrusi, namun jika demikian kita perlu tahu bahwa intrusi adalah bagian normal dari hidup etika kita, sesuai dengan yang dibatasi dan ditentukan oleh penyingkapan Allah.

Memang terlihat bahwa bagian Alkitab yang di atas semuanya ada kaitannya dengan mengedepankan keadilan melawan kejahatan yang mengincar kehidupan yang tidak bersalah. Apakah kita menyebutnya sebagai intrusi, patut diperhatikan bahwa dalam hukum ke sembilan ketentuan untuk menyampaikan kebenaran ikut termasuk sebagai syarat dalam sebuah relasi dengan “sesama.” Dalam konteksnya, hubungan relasi ini secara khusus bersifat legal. Sesama kita ada terdakwa dan “anda” pribadi dipanggil sebagai saksi, berdiri di pojok saksi, tidak boleh berdusta.

Hal ini bukan berarti hukum ini hanya terbatas pada saksi legal, karena banyak bagian Firman lainnya, sebagaimana yang telah kita lihat, mengutuk dusta secara lebih umum. Namun dalam bagian-bagian ini, kewajiban kita memberitakan kebenaran didasarkan (sebagaimana dengan hukum ke sembilan) pada relasi. Dalam Ef 4:25, relasi tersebut adalah kesatuan kita antara satu dengan yang lainnya di dalam Kristus.

Jika ada orang yang dengan tidak sah sengaja ingin mengambil hidup orang lainnya, apakah mereka berdua adalah sesama, sebagaimana dalam arti hukum ke sembilan? Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati memang mengembangkan makna “sesama” mencakup semua orang membutuhkan yang bersinggungan dengan kita. Namun dalam situasi dimana seseorang berupaya menghancurkan hidup yang tidak bersalah, dan bukannya menolong dan menyembuhkan, apakah relasi sesama dalam hal ini ada? Saya rasa tidak. Setidaknya, saya ragu bahwa mereka yang menyesatkan orang lain di 17 bagian di atas memiliki relasi sesama dengan lawannya. Jelas mereka yang berdusta dalam bagian-bagian tersebut tidak berpikir demikian. Dan saya rasa Alkitab juga mendukung keputusan mereka.

Ada juga situasi lain yang lebih sepele dimana pertanyaan akan kebenaran ikut masuk ke dalam diskusi. Apakah salah menyesatkan orang lain jika sebagai lelucon praktis? Tidak, jika ini semacam permainan yang membawa kesenangan; bukan jika melukai. Apakah salah ikut terlibat dalam penyanjungan yang merupakan bagain normal dari etiket bersosial (“Dari lubuh hati yang terdalam,” “Aku sangat menikmati malam ini.”)? Menurut hemat saya, banyak dari frasa-frasa ini bermaksud jauh dari arti sesungguhnya sesuai dengan kata-kata yang tertera. Dan karena semua tahu hal itu, maka bukanlah kemunafikan untuk menggunakannya seperti itu.

Jawaban oleh Dr. John M. Frame

Dr. John M. Frame is Professor of Systematic Theology and Philosophy at Reformed Theological Seminary in Orlando, FL.