Apakah Allah memerintahkan Samuel untuk berdusta - 1 Samuel 16:1-5

Pertanyaan

Apakah Allah memerintahkan Samuel untuk berdusta?

Jawaban

1 Samuel 16:1-5 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku." Tetapi Samuel berkata: "Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku." Firman TUHAN: "Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu." Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: "Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?" Jawabnya: "Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini." Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

Sering kali kebenarannya jauh melampaui apa yang pertama kali kita ketahui atau perhatikan. Barusan terjadi di Orlando dimana pemkot memutuskan untuk merubuhkan Amway Arena yang sudah tua. Dengan menggunakan sekitar hampir 250kg dinamit, gelanggang tersebut diledakkan hanya dalam beberapa detik. Ada beberapa orang yang mengamati dari seberang danau, dan mereka dapat melihat satu sisi bangunan saat diledakkan. Namun, mereka tidak mampu menggambarkan sepenuhnya apa yang terjadi di sisi-sisi yang lain, atau apa yang terjadi di atas, atau apa yang terjadi di dalam. Terlebih lagi, sekalipun pengamat ini melihat bagian sisi mereka dari ledakan tersebut, banyak yang saat ini tidak dapat menyampaikan bongkahan batu mana yang pertama bergeser, mana yang pertama retak, atau mana yang rubuh pertama, kedua, ketiga, dll. Ya, banyak yang mampu menggambarkannya secara umum, namun tidak ada yang sespesifik sang insinyur yang hadir di lokasi atau kamera yang merekam seluruh kejadian.

Saat kita mempelajari Alkitab penting untuk memandangnya dari semua perspektif. Kita harus menjadi semacam insinyur teologi. Kita harus mampu memahami Firman dari setiap perspektif dengan detil, atau kita tidak akan memahami keutuhannya. Ini sebabnya mengapa saat kita mempelajari Alkitab akan selalu ada sesuatu yang baru untuk dipelajari; yang selama ini sebenarnya memang sudah ada. Saat Allah menggerakkan kita ke sisi teks yang lain, atau bahkan masuk ke dalamnya, kita akan terus menerus meledak (keluar/ke dalam) dengan wawasan-wawasan baru.

Untuk dapat memahami bagian teks ini dengan lebih utuh, kita perlu menempatkan kamera-kamera kita untuk mengamati kebenaran Allah dan kemaha-tahuanNya. Hal ini akan memberikan kita pemahaman yang lebih baik akan teks tersebut secara keseluruhan.

Kebenaran adalah bagian yang melekat dari sifat alami (natur) Allah. Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak terdapat kegelapan (1 Yoh. 1:5). Allah tidak dapat berdusta (Bil. 23:19; Rom. 3:4; 1 Sam. 15:29; Tit. 1:1-2). Atribut Allah tidak dapat berubah, tanpa ada kemungkinan sama sekali untuk berubah-ubah (Ibr. 6:18). Allah adalah perwujudan dari kebenaran itu sendiri.

Namun, Allah juga maha tahu dan tahu segalanya (Mz. 139:12; 147:4-5; Yes. 46:10; Ibr. 4:13). Allah tahu apa yang akan ditanyakan kepada Samuel, yaitu, "Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?" (1 Sam. 16:4). Bagaimana respon Samuel? Samuel menjawab, "Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini." Sesudahnya ía “menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu (1 Sam. 16:5). Samuel berkata benar. Memang itulah sebagian alasan mengapa dia datang.

Allah sangat tidak menghargai orang Kristen yang berdusta di pengadilan (Ams. 19:9; 6:16-19) atau berdusta kepada sesama (Kel. 20:16; bdg. Kel 20:17), dll. Namun pada titik ini dalam kehidupan Saul, saya sangat mempertanyakan apakah dia sungguh seorang sesama atau malah musuh Allah (baca Tidak Mematuhi Otoritas Pemerintah) karena dia telah ditolak oleh Allah - Mengapa Saul ditolak oleh Allah? dan Apakah Allah menyesal mengangkat Saul sebagai raja Israel?). Pemazmur mengatakan, “Dia yang melakukan tipu daya takkan diam di dalam rumahku; dia yang mengucapkan kebohongan takkan tegak di mataku” (Mz. 101:7). Namun, penutupan fakta bukanlah berarti berdusta. Sekalipun kebenaran adalah atribut Allah, Dia juga tidak memberitahukan kita semuanya sekaligus; sejarah yang menebuspun disingkapkan kepada kita melalui banyak generasi, tidak semuanya sekaligus. Lagipula, ada banyak hal yang kita tidak tahu dan tidak akan pernah tahu sampai kita masuk ke dalam puncak kemuliaan Kerajaan Allah. Alkitab penuh dengan contoh-contoh akan hal ini: Abraham tidak mengenal Musa, yang juga tidak mengenal Daud, dan Daudpun tidak secara khusus mengenal Yesus, dst. Umat di Perjanjian Lama dan Baru tidak mengetahui detil dari langit dan bumi yang baru. Hanya karena kita tidak maha tahu bukan berarti kita telah dibohongi juga.

Pengkhotbah 3:7 menyatakan, “ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara.” Ayat ini sangatlah relevan, khususnya pada masa perang. Allah, untuk melindungi nyawa Samuel, menyuruh Samuel untuk tidak memberitahukan “semua dan setiap” alasan dari kunjungannya. Samuel berada di sana untuk alasan lain yang tidak dikhususkan dalam teks. Samuel tidaklah berdusta. Día benar datang untuk membawa selamat, yang menjawab satu-satunya pertanyaan yang diajukan. Día menjawab dengan benar. Jika Samuel ditanyakan tentang setiap alasan akan kunjungannya dan segala sesuatu yang dia bermaksud untuk kerjakan selama kunjungannya, maka saat itulah dia harus bertanggung jawab memberikan setiap alasan, dsb. Namun dia tidak ditanyakan setiap alasan, dan Allah, yang maha tahu, tahu kalau kepadanya tidak akan ditanyakan seperti itu. Jadi Allah memberikan Samuel kebenaran yang harus disampaikannya sebelum pertanyaan tersebut muncul di mulut para tua-tua. Samuel kemudian mengulang kebenaran yang Allah sampaikan kepadanya.

Topik Terkait:
Tidak Mematuhi Otoritas Pemerintah
Haruskah Kita Selalu Menyampaikan Kebenaran?

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).