Pelacur dan Ranjang Pernikahan

Pertanyaan

Jawaban dalam Pelecehan Diri menyatakan bahwa masturbasi bukanlah dosa. Namun bagaimana dengan ayat-ayat seperti 1 Korintus 6:18 yang berbicara tentang pelecehan diri (yang dulunya diartikan sebagai “masturbasi”)? Bagaimana dengan ayat-ayat seperti Ibrani 13:4 yang berbicara tentang menjaga kekudusan ranjang pernikahan?

Jawaban

1 Korintus 6:18

Ayat ini berbicara tentang prostitusi, bukan masturbasi. Prostitusi secara eksplisit diidentifikasikan sebagai topik argumentasi Paulus dalam 1 Korintus 6:15-17. 1 Korintus 6:18 memulai sebuah bagian tentang implikasi dan aplikasi dari doktrin Paulus tentang prostitusi.

“Pelecehan diri” ada kalanya digunakan sebagai eufemisme teknis (pelembutan kata) bagi masturbasi dalam bahasa Inggris, tapi tidak dalam bahasa Yunani. Lagipula, “pelecehan diri” tidak disebut dalam 1 Korintus 6:18. Sebaliknya, Paulus berbicara tentang “berdosa terhadap dirinya sendiri.” Kedua ide ini tidak dapat saling menggantikan. Maksud yang Paulus sedang sampaikan adalah dengan melakukan hubungan seksual dengan seorang pelacur, seorang pria menjadikan dirinya “satu daging” dengan pelacur tersebut. Artinya, dia menciptakan sebuah kesatuan fisik yang mistikal antara dirinya dengan si pelacur. Kesatuan inilah yang merupakan dosa terhadap dirinya sendiri. Sama sekali tidak ada tanda-tanda tentang masturbasi.

Ibrani 13:4

Ibrani 13:4 secara eksplisit berbicara tentang menjaga kekudusan ranjang pernikahan dengan menghindari “percabulan” dan “perzinahan.” Masturbasi bukanlah percabulan atau perzinahan. Jadi, ketika kitab Ibrani mengatakan, “jagalah ranjang perkawinan supaya tetap murni,” artinya adalah, “jangan melakukan hubungan seksual dengan orang lain selain pasanganmu.” Sama sekali tidak disinggung tentang masturbasi, atau pencemaran lain yang mungkin timbul di luar konteks percabulan/perzinahan.

Jawaban oleh Ra McLaughlin

Ra McLaughlin is Vice President of Finance and Administration at Third Millennium Ministries.