Bunuh Diri dan Kedaulatan Allah

Pertanyaan

Jika Allah berdaulat dan telah menetapkan segala sesuatunya, mengapa saya harus berusaha menghentikan seseorang yang ingin bunuh diri?

Jawaban

Sekalipun ada beberapa bunuh diri yang terhormat (pengorbanan diri, mengorbankan diri bagi orang lain, bersedia ditembak bagi orang lain, dll.) kebanyakan adalah membunuh diri sendiri. Sebagai bekas detektif di kepolisian, saya sudah pernah mengurus beberapa kasus bunuh diri. Tidak ada satupun yang elok dan kebanyakan membuat mereka yang ditinggal bertanya-tanya “mengapa?” Kebanyakan adalah tindakan putus asa. Kebanyakan adalah teriakan minta tolong.

Allah jelas tahu semua yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi (1 Yoh. 3:20). Demikian pula halnya Dia telah menetapkan semua hal tersebut (walaupun Dia bukanlah pencipta dosa). Día bahkan tahu semua situasi “bagaimana-jika” yang mungkin terjadi namun tidak akan pernah terjadi (Mat. 11:23). Dia tahu bagaimana semua waktu bekerja bersamaan. Pengetahuan Allah tidak terbatas (Mz. 147:5), kekal (Kis. 15:18; Yes. 46:10), universal, berlaku bagi semua orang, waktu, tempat dan peristiwa (Ibr. 4:13), dan sempurna, menghubungkan semua masa lalu, masa kini, dan yang akan datang. Dia tahu semuanya, tanpa kesalahan dan berkelanjutan (Yer. 10:6-7; Rom. 11:33).

Semua waktu milik Allah, sekalipun Dia tidak dibatasi olehnya. Hal-hal yang tersembunyi milik Tuhan (Ul. 29:29); namun, pengetahuan kita terbatas. Kita tidak tahu hari yang Tuhan tetapkan bagi kematian seseorang (Ibr. 9:27), oleh karenanya,pertanyaan di atas perlu dipahami dari perspektif kita karena kita belum tahu rancangan Allah tentang hal tersebut. Allah akan mengurus hal-hal yang merupakan bagianNya, namun kita bertanggung jawab untuk mengurus bagian kita dengan alkitabiah. Tindakan kita tidak akan mengganggu kedaulatan Allah dalam masalah tersebut. Bagaimana mungkin bisa? Kalau memang bisa, berarti ini menyangkal bahwa Allah memang benar berdaulat.

Dalam ruang lingkup hal-hal tersembunyi yang adalah milik Tuhan kita tidak tahu apakah Allah telah menetapkan upaya kita secara individu (sebagai penyebab sekunder) untuk menjalankan penyebab utamaNya dalam menyelamatkan seseorang dari bunuh diri. Allah memakai doa, tindakan kita, kata-kata kita atau kebungkaman kita. Día gunakan semua hal sebagai penyebab sekunder. Allahlah yang menetapkan cara dan hasil akhirnya. Penyebab sekunder dapat menjadi penyebab hanya karena penyebab utama Allah. Efektifitas penyebab sekunder tidak dibatalkan oleh penyebab utama namun membutuhkan penyebab utama yang adalah milik Allah. Pengakuan Imán Westminster (Westminster Confession of Faith) dengan bijak menyebutkan bahwa ketetapan Allah tidak membatalkan realita dan kemanjuran dari penyebab sekunder, namun itulah yang “menetapkan penyebab sekunder.” SEMUAnya bekerja masuk ke dalam tujuan Allah yang telah dinyatakan dan akan SELALU menggenapi kehendakNya yang telah dinyatakan itu. Jadi, intinya bukanlah “apakah” kita harus melakukan sesuatu, namun “apa” yang harus kita lakukan.

Jika seseorang mengancam akan bunuh diri, orang Kristen bertanggung jawab untuk berbuat sesuatu seperti, namun tidak terbatas pada, menghubungi polisi, keluarga dan gembala si pelaku, no telepon pelayanan khusus bunuh diri dan/atau profesional bidang kesehatan mental, dan melakukan ini semua sembari BERDOA. Jangan panik, namun berdoa dan bertindak! Ada kalanya hanya dengan mengucapkan kata-kata yang menyentuh hati dengan lembut akan mampu menghalangi bunuh diri. Pertimbangkan semua tindakan Paulus - doa, pujian, tetap melayani, berbicara, dll. di Kis. 16:16-34. Walalu ada beberapa hal lain yang dapat dilakukan untuk mengintervensi bunuh diri, tetap adalah hal yang bijak untuk sadar akan hal-hal “yang dilarang” seperti ketakutan (1 Sam. 31:1-5; 1 Taw. 10:1-5).

Intervensi bunuh diri dan kedaulatan Allah tidaklah saling meniadakan. Justru, mereka saling melengkapi.

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).