Apakah Adam dan Hawa memiliki anak sebelum kejatuhan?

Pertanyaan

Saya diajarkan bahwa Kain adalah anak pertama Adam dan Hawa. Namun, karena Allah melipatgandakan kesakitan saat melahirkan (Kej. 3:16) maka pastinya Hawa sudah pernah melahirkan sebelum kejatuhan. Benarkah?

Jawaban

Terima kasih atas pertanyaan anda. Saya akan menawarkan beberapa alasan mengapa saya percaya Adam dan Hawa tidak pernah memiliki anak sebelum Kejatuhan.

Pertama, Alkitab mengajarkan bahwa Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang Allah ciptakan. Semua umat manusia berasal dari Adam dan Hawa, dan tidak ada manusia apapun yang hidup sebelum mereka. Adan dan Hawa bukanlah dipilih dari sejumlah besar kumpulan manusia sebagai teladan untuk sebuah cerita.

Lukas menyatakan dalam Kis. 17:26, “Dari satu orang saja [Adam] Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka.” Dan kepada Adam dan Hawalah berkat serta perintah “beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu” diberikan (Kej. 1:28). Adam and Hawa adalah pasangan pertama, sehingga anak apapun haruslah berasal dari mereka—dan hanya mereka.

Kedua, saya percaya Kejatuhan terjadi cukup cepat setelah penciptaan. Kita tahu Kejatuhan tidak langsung terjadi, mengingat Adam dan Hawa mengenali “bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk” (Kej. 3:8). Berapa lamakah yang dibutuhkan oleh pikiran yang sempurna dan tidak berdosa untuk mengenali suara Allah Penciptanya? Sepertinya satu kali cukup. Pikirkan bagaimana Adam mampu memberi nama semua hewan ciptaan Allah dalam waktu kurang dari satu hari (Kej. 2:19-20).

Setan jatuh segera setelah hari ketujuh (bdg. Ayub 38:7) dan sebelum kejatuhan manusia (Lukas 10:18; Wah. 12:3-4; bdg. Yes. 14:13-14; Yeh. 28), yang berarti dia telah hadir “sejak awal mulanya” (Yoh. 8:44) mencoba memanipulasi Adam dan Hawa untuk tidak menaati Allah.

Godaan pasangan pertama oleh si ular merupakan sebuah argumentasi verbal yang dilakukan secara langsung bertatapan muka, peniupan yang meyakinkan. Namun hanya ada satu manusia dalam seluruh sejarah ciptaan yang mampu menolak jenis godaan seperti ini—Adam yang kedua, Yesus Kristus (1 Kor. 15:45, 47). Dan perjumpaan Adam yang terakhir ini, yang berhadapan langsung dengan Setan, terjadi di awal pelayananNya (Mark 1:12), segera setelah baptisan (Mark 1:9-11).

Saya melihat ada paralel yang kuat antara godaan Yesus dan Adam di taman. Saat Adam pertama kehilangan Firdaus bagi seluruh umat manusia (Rom. 5:12), Yesus, Adam yang kedua, merebutnya kembali bagi umatNya (Rom. 5:15). Pelayanan Adam yang kedua (1 Kor. 1:45, 47) ditahbiskan dalam baptisanNya dan kemudian Dia langsung dicobai. Sama halnya, saya melihat Adam di taman Eden diberitahu untuk “beranakcucu dan bertambah banyak” namun jatuh dalam godaan setelah hari ke tujuh. Oleh karenanya, saya menganggap godaan bagi Adam dan Hawa terjadi cukup cepat setelah mereka perintah awal dari Allah (mis. Kej. 1:28; 2:16-17).

Ketiga, baru setelah Kejatuhanlah “Perempuan” (Kej. 2:23) menerima nama barunya, Hawa yang artinya “ibu semua yang hidup” (Kej. 3:20). Berarti implikasinya Hawa belumlah menjadi seorang ibu.

Nama baru ini sebagian dikarenakan kutukan Allah atas perempuan: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu” (Kej. 3:16). Ada yang mengusulkan bahwa Kejadian 3:16 berarti bahwa Hawa sebelumnya sudah pernah memiliki rujukan (mis. melahirkan anak tanpa kesakitan) untuk membandingkannya dengan kutukan. Namun, hal ini tidak berarti benar. Banyak bayi menangis saat menerima suntikan vaksin pertama walaupun mereka belum pernah memiliki rujukan sebelumnya. Bayi punya banyak hal “pertama” yang secara definisi tidak memiliki rujukan sebelumnya. Demikian juga halnya, ayah dan ibu memiliki banyak hal “pertama” ketika mereka pertama kali memiliki anak.

Keempat, Adam dan Hawa diusir dari taman segera setelah dosa(-dosa) mereka. Kejadian 3:22-24 menuliskan:

“Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.”

Perhatikan tidak disebutkan sama sekali ada anak-anak yang diusir dari taman. Namun, jika memang ada anak sebelum Kejatuhan, pastilah mereka juga diusir. Mengapa? Karena anak-anak seperti itu, jika memang mereka ada, tetaplah berada di bawah kepala perjanjian, yaitu Adam. Paulus mengulas hal ini dalam Roma 5:12: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Adam dianggap sebagai kepala federal yang mewakili seluruh umat manusia, sehingga dalam dosa mula-mula Adam semua manusia juga diperhitungkan sebagai orang berdosa di dalam dia.

Lagipula, anak-anak yang diperkirakan ada ini, tentu bisa saja sudah memakan dari “pohon kehidupan” (Kej. 3:22) yang berarti akan hidup selamanya sebagai pendosa dalam Adam. Dan jika memang mereka ada dan berkembang biak, dimanakah mereka saat ini? Namun coba kita berandai-andai sejenak bahwa mereka tidak diperhitungkan sebagai pendosa dalam Adam. Bukankah berarti mereka seharusnya meneruskan keturunan sebagai ras yang sempurna dan tidak berdosa? Dimanakah dalam dunia ini yang tidak ada dosa dan maut? (Rom. 6:23). Tentu tidak ada karena semua telah berdosa dan kehilangan kemuliaan! (Rom. 3:23)

Terakhir, sekalipun Adam dan Hawa memiliki anak-anak yang lain (tidak disebutkan namanya dalam Alkitab), Kejadian 4:1 menyampaikan, “Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN." Walau nats tidak secara langsung mengatakan bahwa Kain adalah anak pertama Adam dan Hawa, tetap ayat ini mengimplikasikan hal tersebut. Nama Kain artinya “yang menerima.” [1] Hawa sangat mengenali baik kutuk (Kej. 3:16) dan janji Allah akan seorang penebus (Kej. 3:15). Dengan perkataannya di Kejadian 4:1, dia bersemangat karena berpikir (dengan salah) bahwa Kain mungkin adalah sang penebus yang dijanjikan di Kejadian 3:15. Terlebih lagi, karena Kain membunuh Habel, jelas dia memiliki natur berdosa sehingga tentunya dilahirkan setelah Kejatuhan. Konteks secara keseluruhan ini dan signifikansi dari nama Kain (untuk perubahan nama Hawa dapat dilihat di bagian atas) mengimplikasikan bahwa kelahiran Kain adalah inagurasi atas fase baru dalam sejarah umat manusia—prokreasi dari umat manusia telah dimulai!

Saya berharap alasan saya di sini dengan jumlah bukti yang cukup banyak dapat menolong anda untuk dapat melihat dengan jelas bahwa pasangan pertama tidak memiliki anak sebelum Kejatuhan.

Catatan Kaki

[1] Sebagai tambahan atas pernyataan Hawa, gema yang lain tentang teologi benih ini dapat ditemukan dalam benih Abraham (Kej. 12:7; 13:15-16; 15:3, 13, 18; 17:7-10, 12, 19; 21:12; 22:17-18, dll.). Selanjutnya kita juga menemukannya ketika Maria mendapati bahwa dia mengandung dan Gabriel mengumumkan, “Ia akan menjadi besar” (Lukas 1:32). Dia menggunakan kata yang telah digunakan oleh Abraham dan Daud (Kej. 12:2; 2 Sam. 7:9) dan khususnya Kejadian 3:15, karena benih itu (Yesus) menghancurkan kepala si ular! (Kol. 2:15).

Topik Terkait

Who is the Prince of Tyre

What is Federal Headship?

How are original sin and imputed sin different?

Jawaban oleh Dr. Joseph R. Nally, Jr.

Dr. Joseph R. Nally, Jr., D.D., M.Div. is the Theological Editor at Third Millennium Ministries (Thirdmill).